TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Price to Book Value di Bawah 1, Analis Sarankan Cermati Saham PTSN Karena Sentimen Ini

Busthomi
23 October 2026 | 18:54
rubrik: Capital Market
Saham Pilihan Hari Ini: ELSA, AKRA, BRIS, dan TPIA, Disarankan Beli

FOTO: Tom/TopBuisness

Jakarta, TopBusiness – PT Sat Nusapersada Tbk (IDX: PTSN) membukukan pendapatan sebesar US$182,28 juta atau sekitar Rp3,2 triliun pada semester I-2026.

Pendapatan emiten manufaktur elektronik tersebut melonjak 65,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$110,32 juta.

Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut belum diikuti peningkatan laba. PTSN mencatatkan laba tahun berjalan sebesar US$4,69 juta pada enam bulan pertama 2026, turun 30,4% dibandingkan US$6,74 juta pada semester I-2025.

Mengutip laporan keuangan perseroan, Jumat (23/10/2026), kenaikan pendapatan diikuti peningkatan beban pokok pendapatan menjadi US$167,45 juta dari sebelumnya US$94,96 juta.

Kondisi ini membuat laba kotor PTSN turun menjadi US$14,83 juta, dibandingkan US$15,35 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Sejalan dengan itu, margin laba kotor perseroan menyusut dari 13,9% menjadi 8,1%. Penurunan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan pendapatan belum diikuti kemampuan menghasilkan laba kotor dengan proporsi yang sama.

Dari sisi beban, PTSN mencatatkan beban usaha sebesar US$7,52 juta, naik dari US$7,22 juta pada semester I-2025. Perseroan juga membukukan rugi selisih kurs bersih sebesar US$592.288, berbalik dari keuntungan US$79.324 pada periode sebelumnya.

Sementara itu, beban keuangan meningkat menjadi US$794.599 dari US$622.156. Dengan kondisi tersebut, laba sebelum pajak PTSN turun menjadi US$6,13 juta dari US$8,64 juta pada semester I-2025.

Setelah dikurangi pajak penghasilan sebesar US$1,44 juta, laba tahun berjalan perseroan tercatat US$4,69 juta.

PBV PTSN di Bawah 1 Kali

Di pasar saham, pergerakan PTSN turut menjadi perhatian setelah sahamnya menguat tajam. Di mana pada Jumat (23/10/2026), saham PTSN naik 24,46% ke level 346.

Kenaikan saham PTSN tersebut terjadi di tengah munculnya wacana pemerintah membagikan ponsel gratis kepada sedikitnya 25 juta warga dewasa yang masuk kelompok desil 1–4. Rencana tersebut dikaitkan dengan upaya melengkapi rekening digital untuk penyaluran bantuan sosial dan bantuan langsung tunai (BLT).

BACA JUGA:   Topang Kinerja, BTPN Syariah bakal Selektif Jaga Pembiayaan

Jika harga per unit Rp1,1 juta saja, maka dibutuhkan biaya pengadaan sekitar Rp27,61 triliun untuk program tersebut.

Jumlah ini cukup besar dan akan memberikan keuntungan bagi PTSN. PTSN disebut menjadi pihak yang diuntungkan untuk assembly dan production program tersebut.

Di luar sentimen pasar, valuasi perseroan juga menarik dicermati. Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2026 dan asumsi harga saham Rp346 pada penutupan perdagangan 22 Oktober 2026, rasio harga saham terhadap nilai buku atau price to book value (PBV) PTSN diperkirakan berada di level 0,79 kali.

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan, PBV di bawah 1 kali tidak serta-merta menunjukkan saham berada dalam kondisi undervalued atau memiliki harga yang lebih rendah daripada nilai wajarnya.

“Mencermati laporan keuangan PTSN per Juni 2026 dan asumsi harga saham Rp346, estimasi PBV PTSN berada di sekitar 0,79 kali. Namun demikian, PBV di bawah 1 kali tidak serta-merta saham tersebut dapat dikatakan undervalued,” ujar Herditya, kepada media, Jumat (23/10/2026).

Menurut dia, penilaian valuasi saham perlu mempertimbangkan perkembangan kinerja keuangan perseroan, terutama kemampuan menjaga margin dan meningkatkan laba.

Hal ini menjadi penting karena pertumbuhan pendapatan PTSN pada semester I-2026 belum diikuti perbaikan profitabilitas.

“Menurut kami, valuasi PTSN perlu dicermati bersamaan dengan kemampuan perusahaan menjaga margin, meningkatkan laba, dan memperbaiki arus kas operasional,” kata Herditya.

Dengan demikian, PBV di bawah 1 kali menunjukkan bahwa saham PTSN diperdagangkan di bawah nilai bukunya berdasarkan asumsi harga yang digunakan.

Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan kinerja keuangan perseroan, termasuk kemampuan mempertahankan pertumbuhan pendapatan dan memperbaiki profitabilitas.

Tags: Emiten PTSNKinerja emitenPT Sat Nusapersada TbkPTSN
Previous Post

Akselerasi Ekonomi Sirkular di Jalan Tol, Hutama Karya Sulap Sampah Plastik dan Minyak Jelantah Jadi Rupiah

Next Post

Tinjau Jalan Lintas Utara Flores, Menteri Dody: Labuan Bajo – Maumere Sepanjang 472 Km Tuntas Akhir 2028

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR