Jakarta, TopBusiness — Yayasan Kartini Heritage Center (KHC) menggelar The Legacy Relay 2026 — Special Sumpah Pemuda Forum di Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Jakarta, Rabu (21/10/2026) lalu.
Forum lintas generasi ini mengajak tokoh bangsa, pelaku industri, akademisi, komunitas, dan generasi muda merumuskan kontribusi yang dapat diwariskan bagi Indonesia menuju 2045.
Mengusung tema utama “What Will Our Generation Leave Behind?”, kegiatan yang didukung Forum Dialog Nusantara (FDN), Perpusnas, dan Jawapos.com tersebut menghubungkan semangat persatuan Sumpah Pemuda 1928 dengan pemikiran R.A. Kartini, Mohammad Hatta, dan B.J. Habibie.
“Di acara itu, ketiganya merepresentasikan nilai pendidikan dan kesempatan, integritas kebangsaan, serta pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026,” demikian seperti disampaikan dalam keterangan resmi yang diterima media, Sabtu (24/10/2026).
Melalui dialog lintas sektor, penyelenggara mendorong generasi muda tidak sekadar mewarisi nilai dan pemikiran para pendahulu, tetapi menerjemahkannya menjadi karya, inovasi, dan kontribusi nyata.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya hadir sebagai Special Speaker dan National Challenger. Sesi tersebut membahas bagaimana ide, budaya, kreativitas, dan teknologi dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi Indonesia, sekaligus menyoroti pentingnya ekosistem, kesempatan, dan kolaborasi untuk mendukung potensi generasi muda.
Salah satu sesi utama, The Legacy Table, mempertemukan Ilham Akbar Habibie, putra B.J. Habibie sekaligus Ketua Dewan Penasihat FDN; Halida Nuriah Hatta, putri Mohammad Hatta sekaligus Ketua Yayasan Hatta; dan Joddy Mulyasetya Putra, canggah R.A. Kartini sekaligus Ketua Yayasan Kartini Heritage Center.
Diskusi tersebut menempatkan warisan tokoh bangsa bukan semata-mata sebagai catatan sejarah atau kebanggaan keluarga, melainkan sebagai tanggung jawab yang harus dimaknai kembali oleh generasi sekarang.
“Nilai pendidikan, integritas, persatuan, ilmu pengetahuan, dan inovasi dinilai tetap relevan untuk menjawab perubahan sosial dan perkembangan teknologi,” sebut keterangan itu.
Selain membahas warisan pemikiran para pendahulu, forum menghadirkan beragam perspektif mengenai tantangan Indonesia ke depan. Dalam sesi Generation Builders: Lightning Relay, para narasumber dari berbagai bidang mendiskusikan isu ekonomi riil, industri kreatif, kewirausahaan, profesi masa depan, partisipasi publik, pemberdayaan perempuan, budaya, lingkungan, dan kesetaraan.
Narasumber yang terlibat antara lain Cecep M. Wahyudin dari KADIN Indonesia, Ibnu Riza dari Indonesia Esports Association (IESPA), Tsamara Amany Alatas, Handoko Hendroyono dari Filosofi Kopi dan Mbloc Group, Lutfi Dipa Nawahasta dari BEPRO, serta Dzaki Adinda Husna dari The Mantra Group.
Forum juga menghadirkan Rian Fahardhi untuk membahas literasi digital dan partisipasi publik, Mutiara Diah Asmara dari Djarum Foundation terkait budaya dan lingkungan, Kusuma Ida Anjani dari PT Mustika Ratu Tbk. mengenai keberlanjutan warisan budaya dalam dunia usaha, serta Elisa Sugito dalam isu hak perempuan dan anak.
Ragam perspektif tersebut menegaskan bahwa pembangunan Indonesia tidak dapat bertumpu pada satu sektor atau pendekatan. Peran generasi muda dibutuhkan dalam menghubungkan kreativitas, kapasitas usaha, teknologi, kepedulian sosial, dan partisipasi masyarakat.
Suara peserta juga mendapat ruang melalui sesi “60 Seconds for Indonesia”. Dalam kesempatan tersebut, peserta menyampaikan gagasan dan harapan mengenai berbagai isu, mulai dari lingkungan, pemanfaatan teknologi dan inovasi, hingga kesiapan menghadapi perubahan dunia kerja.
Buku 28 Gagasan untuk Indonesia 2045
Sebagai tindak lanjut, KHC menyiapkan buku The Legacy Relay 2026: 28 Gagasan untuk Indonesia 2045. Buku tersebut akan menghimpun gagasan terpilih melalui rangkaian penulisan surat kepada Indonesia 2045. Proses kurasi, penyuntingan, dan penerbitan dilakukan setelah forum berlangsung.
Buku ini dirancang sebagai dokumentasi pemikiran lintas generasi, sekaligus ruang untuk merekam harapan, pertanyaan, dan bentuk kontribusi yang ingin diberikan generasi sekarang kepada masa depan Indonesia.
Melalui semangat “From Legacy to Action”, KHC juga membuka peluang kolaborasi agar gagasan yang terdokumentasi dapat dikembangkan menjadi kegiatan dan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
Rangkaian kegiatan turut dilengkapi pameran “Dari Ikrar Menjadi Warisan” di Perpusnas pada 20–30 Oktober 2026. Pameran tersebut menampilkan foto, buku, dan literatur sejarah terkait Sumpah Pemuda 1928 serta pemikiran R.A. Kartini, Mohammad Hatta, dan B.J. Habibie.
Melalui The Legacy Relay 2026, KHC mengajak generasi muda memandang warisan bukan sekadar sesuatu yang diterima dari masa lalu, melainkan tanggung jawab untuk menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi generasi berikutnya. Menjelang Indonesia 2045, estafet tersebut diharapkan berlanjut melalui gagasan, karya, dan tindakan nyata yang menjawab kebutuhan masyarakat.
