Jakarta, TopBusiness – Badan Pimpinan Pusat Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPP PHRI) meminta Garuda Indonesia memberikan fasilitas pengiriman gratis (free charge) untuk rempah-rempah dan bahan baku kuliner Indonesia ke luar negeri. Dukungan ini dinilai dapat membantu memperluas penyebaran restoran Indonesia di pasar global sekaligus memperkuat ekspor produk pangan nasional.
Wakil Ketua Umum Bidang Restoran BPP PHRI Susanty Widjaya mengatakan, dukungan logistik diperlukan agar restoran Indonesia di mancanegara lebih mudah mendapatkan rempah dan bahan baku dari Tanah Air.
“Garuda Indonesia diharapkan bisa memberikan fasilitas free charge untuk pengiriman rempah-rempah dan bahan baku Indonesia ke luar negeri. Dengan begitu, restoran Indonesia di mancanegara bisa lebih mudah mendapatkan bahan baku untuk menjaga cita rasa autentik masakan Nusantara,” ujar Susanty dalam konferensi pers KRISTA InterFOOD 2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Menurutnya, Indonesia dapat mencontoh Thailand yang memberikan dukungan berupa free charge biaya pengiriman oleh maskapai penerbangan untuk membantu perkembangan restoran negaranya di berbagai belahan dunia. Dukungan tersebut dinilai penting karena ekspansi kuliner ke pasar internasional tidak hanya membutuhkan merek dan konsep bisnis yang kuat, tetapi juga rantai pasok bahan baku yang terjaga.
“Thailand bisa menjadi contoh bagaimana dukungan terhadap rantai pasok ikut membantu restoran mereka berkembang di luar negeri. Indonesia juga memiliki kekayaan rempah dan kuliner yang luar biasa. Karena itu, dukungan logistik perlu menjadi perhatian agar restoran Indonesia bisa semakin luas menjangkau pasar internasional,” katanya.
Susanty menilai, jika biaya pengiriman dapat ditekan, pelaku usaha restoran Indonesia di luar negeri berpeluang memperoleh pasokan bahan baku dengan lebih efisien. Pada saat yang sama, produsen rempah, pengolah pangan, serta industri kecil dan menengah (IKM) di Indonesia juga berpotensi mendapatkan akses pasar yang lebih luas.
Dukungan tersebut juga dapat memperkuat keterkaitan antara industri pangan nasional dan bisnis kuliner Indonesia di mancanegara. Dengan pasokan bahan baku yang lebih mudah, restoran Indonesia dapat mempertahankan karakter masakan Nusantara sekaligus memperkenalkan produk lokal kepada konsumen internasional.
Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita menyoroti tingginya biaya logistik sebagai salah satu tantangan yang perlu diselesaikan bersama oleh pemerintah dan pelaku usaha.
“Biaya logistik yang cukup tinggi ini juga perlu menjadi pertimbangan. Kita perlu mencari solusi untuk menghadapi tantangan tersebut, bersama-sama antara pemerintah dan pelaku usaha,” ujar Reni dalam acara konferensi pers tersebut.
Reni mengatakan Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, termasuk rempah-rempah yang dapat dioptimalkan menjadi produk bernilai tambah dan berdaya saing. Menurutnya, penguatan kolaborasi antarpemangku kepentingan diperlukan agar potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor industri makanan dan minuman mencapai US$83,68 miliar pada 2029. Perluasan akses pasar, peningkatan kualitas produk, serta penguatan kemitraan menjadi bagian dari upaya untuk mendorong daya saing industri nasional.
Peluang tersebut juga dapat dijajaki melalui KRISTA InterFOOD 2026 yang berlangsung pada 4–7 November 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, Banten. Pameran ini mempertemukan produsen, distributor, pembeli, dan mitra bisnis untuk membuka peluang perdagangan serta memperluas jaringan pasar produk makanan dan minuman Indonesia.
