Jakarta, BusinessNews Indonesia – Manajemen Asia Pulp and Paper (APP) Sinar Mas mengklaim saat ini pihaknya menggunakan 100% kayu perkebunan untuk menunjang produksi. Proses ini telah dilakukan perusahaan sejak 2013. Sebab itu, APP memastikan pemasok tidak menebang kayu alam yang menyebabkan deforestasi.
“Sejak menjalankan forest conservation policy (FCP), ada 20 perusahaan kami tolak menjadi supplier, sebanyak dua perusahaan di-remove karena tidak dapat memenuhi,” kata Elim Sritaba, Director of Sustainability and Stakeholder Engagement APP Sinar Mas di Jakarta, kemarin.
Dengan standar baru itu, perusahaan juga telah menyelesaikan 46% konflik dengan masyarakat setempat. Selain itu perusahaan mampu menekan areal terkena kebakaran hingga tinggal 0,01%. Selain itu perusahaan mengklaim telah mengalih fungsikan 7.000 hektare lahan perkebunan di lahan gambut untuk memulai perlindungan yang lebih baik.
Saat ini, kapasitas terpasang pulp pada Asia Pulp and Paper (APP) Sinar Mas mencapai 7 juta ton. Kapasitas produksi pulp ini merupakan produksi maksimum dari tiga pabrik yang dimiliki perusahaan.
“Sekitar 3 juta ton dari Indah Kiat Perawang, hampir 1 juta ton dari pabrik Lontar Papyrus, serta sekitar 3 juta ton dari pabrik Oki Pulp. Jadi produksi maksimum kami saat ini 7 juta ton pulp. Saat ini beberapa mill tidak berjalan 100%,” kata Elim.
Saat ini, produksi perusahaan terdiri atas tisu, kemasan, kertas, pulp, kertas, produk kemasan dan konvensi mencapai 19 juta ton per tahun.
Sementara itu, Managing Director APP Sinar Mas Goh Lin Piao mengatakan saat ini pekerjaan terbesar perusahaan adalah menyelesaikan berbagai persoalan dengan lingkungan seperti sengketa tanah, perambahan hutan secara ilegal hingga penduduk miskin sekitar areal konsesi perusahaan.
