TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Ekonomi RI Diproyeksi Tumbuh 5,2%, Konsumsi dan Investasi Jadi Penopang

Nurdian Akhmad
4 November 2026 | 05:54
rubrik: Ekonomi
Ekonomi RI Diproyeksi Tumbuh 5,2%, Konsumsi dan Investasi Jadi Penopang

Jakarta, TopBusiness – Di tengah meningkatnya tensi geopolitik global dan pengetatan likuiditas dunia, ekonomi Indonesia diperkirakan masih mampu tumbuh solid. PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,2% pada 2026 dan bertahan di kisaran 5% dalam jangka menengah.

Chief Economist & Head OCBC Group Research Selena Ling mengatakan, kekuatan pasar domestik menjadi salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan tersebut. Konsumsi rumah tangga dan investasi masih menjadi dua motor penggerak ekonomi nasional.

“Sebagian besar dorongan pertumbuhan datang dari sisi permintaan domestik. Konsumsi rumah tangga dan investasi tetap menjadi pilar krusial bagi perekonomian Indonesia,” kata Selena dalam Media Briefing OCBC Outlook di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Proyeksi tersebut didukung oleh sejumlah indikator ekonomi. Konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh sekitar 5,1%, sementara investasi pada kuartal II 2026 meningkat 6,9% secara tahunan (year-on-year/YoY).

Ketahanan pasar tenaga kerja juga turut menopang daya beli masyarakat. Tingkat pengangguran tercatat sebesar 4,65% per Mei 2026. Selain permintaan domestik, ketahanan ekonomi Indonesia didukung oleh posisi cadangan devisa yang relatif kuat.

Pada akhir September 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$146,3 miliar, setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor. Posisi tersebut berada di atas standar kecukupan internasional dan menjadi salah satu penyangga stabilitas eksternal.

Meski demikian, Selena mengingatkan bahwa prospek ekonomi Indonesia tetap perlu dicermati di tengah berbagai risiko global. Ketegangan geopolitik, konflik di Timur Tengah dan Ukraina, ketidakpastian perdagangan global, serta kebijakan tarif Amerika Serikat berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi dan perdagangan.

Dari sisi domestik, risiko El Nino juga perlu diantisipasi karena dapat memicu kenaikan harga pangan dan tekanan inflasi. Sementara itu, ketidakpastian terkait penilaian klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI turut menjadi perhatian pelaku pasar.

BACA JUGA:   Ceria, Warga Penerima Bantuan Sarhunta Jelang Ajang Balap Motor Internasional

Di tengah tantangan tersebut, OCBC melihat peluang pertumbuhan masih terbuka di sejumlah sektor. Besarnya pasar domestik memberikan ruang bagi pengembangan bisnis, terutama di sektor konsumsi, layanan kesehatan, jasa digital, manufaktur, dan industri pengolahan.

Hilirisasi mineral juga menjadi salah satu sumber peluang investasi. Nilai investasi di sektor hilirisasi tercatat mencapai Rp480 triliun sepanjang Januari-September 2026. Selain itu, pengembangan infrastruktur digital, termasuk pusat data, turut membuka ruang pertumbuhan baru.

Diamond Stole, Head of Wealth Management Advisory OCBC, menilai stabilitas makroekonomi dapat menjadi modal bagi pelaku usaha dalam menyusun rencana ekspansi jangka panjang. Namun, pertumbuhan ekonomi tidak serta-merta menghilangkan risiko yang perlu diantisipasi.

“Kondisi makroekonomi memberikan kita konteks, bukan instruksi. Artinya, meski ekonomi bertumbuh, pelaku usaha tetap harus disiplin mengelola likuiditas, menyelaraskan profil risiko, serta memisahkan aset bisnis dari kas keluarga,” tutur Diamond.

Menurut dia, pelaku usaha perlu memastikan strategi ekspansi tetap sejalan dengan kemampuan keuangan dan profil risiko masing-masing. Pengelolaan likuiditas menjadi penting, terutama ketika kondisi pembiayaan global semakin ketat dan ketidakpastian ekonomi masih tinggi.

Bagi korporasi, besarnya pasar domestik tetap membuka peluang di berbagai sektor. Namun, peluang tersebut perlu diimbangi dengan pengelolaan risiko, terutama terkait potensi gangguan rantai pasok, volatilitas harga energi, dan kenaikan harga pangan.

Dengan demikian, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan tetap terjaga perlu diikuti strategi bisnis yang cermat. Pelaku usaha tidak hanya perlu menangkap peluang pasar, tetapi juga menjaga ketahanan keuangan dan kemampuan perusahaan dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi.

Tags: ocbcpertumbuhan ekonomi 2026
Previous Post

Pertamina Drilling Perkuat Operasional Migas di Irak dan Timur Tengah melalui Kerja Sama Strategis dengan Halliburton

Next Post

IHSG Diproyeksikan Lanjut Koreksi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR