Jakarta, TopBusiness—Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2026 diprakirakan tetap kuat di tengah tekanan global. Pertumbuhan tetap ditopang oleh permintaan domestik dan kinerja ekspor yang positif.
Siaran pers dari KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan), kemarin, menyebut bahwa konsumsi rumah tangga didorong oleh berlanjutnya berbagai stimulus fiskal Pemerintah. APBN terus berperan sebagai shock absorber melalui subsidi, kompensasi, perlindungan sosial (perlinsos), stabilisasi harga pangan, dan penciptaan lapangan kerja.
Investasi diprakirakan tumbuh kuat seiring dengan proyek hilirisasi dan pembangunan infrastruktur dalam program prioritas Pemerintah.
Sementara itu, konsumsi Pemerintah didukung oleh percepatan belanja dan penyaluran bantuan sosial.
Adapun dari sisi eksternal, kinerja ekspor nonmigas meningkat dan semakin didorong untuk memanfaatkan momentum kenaikan harga dan permintaan komoditas ekspor.
Selain itu, Pemerintah turut menjaga ketahanan eksternal melalui kebijakan konversi hasil ekspor (DHE). Kinerja positif perekonomian juga didukung oleh beberapa indikator ekonomi, antara lain penjualan mobil dan motor yang tumbuh tinggi masing-masing 28,1% YoY (year on year) dan 15,4% YoY di bulan September dan PMI Manufaktur yang melanjutkan ekspansi ke level 54,0 di bulan Oktober.
Dengan perkembangan tersebut, ekonomi Indonesia tahun 2026 diprakirakan tumbuh di atas 5,4% YoY.
Untuk mempertahankan momentum pertumbuhan, penguatan sinergi kebijakan Pemerintah dan BI serta kolaborasi Pemerintah-Danantara melalui pendekatan “Two Arms of The State” terus diperkuat untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan bernilai tambah tinggi.
