Jakarta, TopBusiness – Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,1% secara tahunan (year-on-year/YoY), dari proyeksi sebelumnya sebesar 5% dalam laporan Juli 2026. Sementara itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 dipertahankan sebesar 5,1%.
Dalam laporan World Economic Outlook edisi Oktober 2026 yang dikutip Kamis (15/10/2026), IMF memperkirakan perekonomian Indonesia tetap tumbuh stabil di tengah perbedaan prospek ekonomi negara-negara Asia Pasifik. Proyeksi pertumbuhan Indonesia pada 2026 tersebut juga menempatkan Tanah Air dalam kelompok negara yang diperkirakan mencatat pertumbuhan di atas 5%.
Di kawasan Asia Tenggara, Vietnam diproyeksikan mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi di antara negara-negara dalam daftar, yakni 8,4% pada 2026, meningkat dari 8% pada 2025. Malaysia diperkirakan tumbuh 5,2%, sedikit di atas Indonesia yang diproyeksikan mencapai 5,1%. Adapun Singapura diperkirakan tumbuh 5%.
India juga diproyeksikan mencatat pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi, yakni 7% pada 2026. Namun, angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan 7,8% pada 2025.
Sementara itu, perekonomian China diperkirakan tumbuh 4,5% pada 2026, turun dari 5% pada tahun sebelumnya. Filipina juga diproyeksikan mengalami perlambatan, dengan pertumbuhan ekonomi turun dari 4,4% pada 2025 menjadi 3,4% pada 2026.
Sebaliknya, Korea Selatan diperkirakan mencatat perbaikan pertumbuhan ekonomi, dari 1,1% pada 2025 menjadi 3,3% pada 2026. Adapun Thailand dan Jepang diproyeksikan mencatat pertumbuhan paling rendah di antara 10 negara yang dibandingkan, masing-masing sebesar 2,1% dan 0,7%.
Perbedaan proyeksi tersebut memperlihatkan bahwa prospek ekonomi Asia Pasifik tidak bergerak seragam. Vietnam dan India diperkirakan tumbuh lebih cepat, sementara sejumlah negara, termasuk China dan Filipina, menghadapi perlambatan. Indonesia sendiri diproyeksikan mampu mempertahankan pertumbuhan di kisaran 5%.
Pertumbuhan Global dan Inflasi
Pada tingkat global, IMF juga menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 menjadi 3,1%, dari perkiraan sebelumnya sebesar 3% dalam laporan Juli 2026. Proyeksi pertumbuhan global pada 2027 tetap sebesar 3,4%.
IMF menilai perekonomian sejumlah negara Asia Tenggara masih menunjukkan ketahanan. Salah satu faktor pendukungnya adalah pengembangan pusat data (data center), yang memberikan manfaat bagi aktivitas ekonomi di kawasan. Di beberapa negara, kebijakan fiskal untuk menjaga daya beli masyarakat juga turut menopang prospek pertumbuhan.
Meski demikian, tekanan inflasi masih menjadi perhatian. IMF memperkirakan inflasi global meningkat dari 4,1% pada 2025 menjadi 4,7% pada 2026, sebelum turun kembali menjadi 4,1% pada 2027.
Proyeksi inflasi global untuk 2026 tidak berubah dari perkiraan Juli. Namun, proyeksi untuk 2027 direvisi naik 0,2 poin persentase, terutama akibat perkiraan harga energi dan pangan yang lebih tinggi.
Dengan revisi naik proyeksi pertumbuhan Indonesia dan perbaikan perkiraan pertumbuhan global, prospek ekonomi 2026 dinilai masih memberikan ruang bagi pertumbuhan. Namun, perbedaan kinerja antarnegara dan tekanan harga energi serta pangan tetap menjadi faktor yang perlu dicermati.
