Jakarta, TopBusiness— PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) terus memperkuat perannya dalam perjalanan panjang pengembangan panas bumi Indonesia yang memasuki usia satu abad. Berawal dari penemuan potensi panas bumi pada 1926 di Kamojang, Jawa Barat, wilayah ini kini berkembang menjadi salah satu pusat pengembangan energi panas bumi nasional.
Momentum satu abad ini turut dimaknai Direktur Utama PGE Ahmad Yani. Menurutnya, komitmen terhadap energi bersih dan kinerja bisnis yang solid dapat berjalan beriringan.
“Tujuan kami adalah untuk melayani masyarakat, baik dengan menyediakan pasokan listrik berbasis energi panas bumi yang tersedia setiap saat maupun Beyond Electricity. Sejalan dengan agenda pemerintah dalam mendorong transisi energi dan ketahanan energi nasional, ekspansi bisnis yang kami lakukan difokuskan untuk memberikan manfaat panas bumi sebesar-besarnya. Oleh karena itu, kinerja positif ini menjadi bekal bagi kami untuk melayani masyarakat,” jelas Ahmad Yani, dalam keterangannya, Kamis (5/11/2026).
Sejalan dengan fokus ekspansi tersebut, PGE kini mengelola kapasitas terpasang secara mandiri (own operation) sebesar 727 megawatt (MW). Kapasitas ini ditargetkan naik menjadi 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan 1,8 GW pada 2033 melalui pengembangan organik, anorganik, dan akselerasi proyek.
Untuk itu, PGE mengoptimalkan aset eksisting, memperluas kapasitas, dan mengembangkan sumber pendapatan baru.
Langkah menuju target tersebut didukung kinerja positif PGE sepanjang kuartal III-2026. Mengacu pada laporan keuangan per 30 September 2026, laba bersih Perseroan tumbuh 21,45 persen secara year-on-year (YoY), melampaui pertumbuhan pendapatan yang naik 10,46 persen YoY.
Direktur Keuangan PGE Fransetya Hasudungan Hutabaratmengatakan, capaian ini mencerminkan konsistensi strategi bisnis Perseroan yang efektif dan efisien.
“Proyek panas bumi PGE adalah proyek jangka panjang yang berjalan multi-years. Karena itu, pertumbuhan tidak hanya diukur dari penambahan kapasitas, tetapi juga dari kemampuan Perseroan menjaga profitabilitas dan kesehatan keuangan di setiap tahap pengembangan. Dengan prinsip growth with discipline, kami memastikan pertumbuhan tersebut berkualitas, menguntungkan, dan berkelanjutan. Harapannya, investasi yang kami tanam hari ini dapat memberikan multiplier effect bagi perekonomian dan masyarakat,” ujar Fransetya.
Pertumbuhan tersebut tercermin dalam kinerja PGE sepanjang Januari hingga September 2026: untuk pendapatan sebesar US$352,20 juta, naik 10,46 persen YoY. Untuk laba bersih sebanyak US$126,62 juta, naik 21,45 persen YoY. Lalu EBITDA: US$287,77 juta, naik 15,58 persen YoY, dan Kas dan setara kas: US$713,68 juta.
Kinerja tersebut turut didukung struktur keuangan yang tetap terjaga. Hingga akhir September 2026, total liabilitas Perseroan turun 3,37 persen menjadi US$955,55 juta, yang memberikan fleksibilitas untuk melanjutkan ekspansi.
Dari sisi operasional, PGE mencatatkan produksi listrik panas bumi sebesar 4.114 gigawatt hour (GWh) dari wilayah kerja yang dikelola secara mandiri sepanjang Januari hingga September 2026. Angka ini menjadi rekor tertinggi (all-time high) PGE untuk periode sembilan bulan.
Realisasinya melampaui target 3.801 GWh, dengan capaian mencapai 108,22 persen. Dibandingkan Januari hingga September 2025 yang sebesar 3.747 GWh, produksi naik sekitar 9,86 persen. Capaian ini mencerminkan konsistensi PGE menjaga operational excellence sekaligus mengoptimalkan aset panas bumi yang dikelola.
Berbekal capaian tersebut, PGE mengintensifkan kegiatan pengeboran di sejumlah wilayah operasional. Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGEEdwil Suzandimenjelaskan peran pengeboran dalam strategi pertumbuhan Perseroan.
“Pengeboran menjadi salah satu langkah konkret PGE dalam mengembangkan pemanfaatan energi panas bumi, baik untuk membuka potensi kapasitas baru maupun mengoptimalkan aset yang telah beroperasi. Bagi PGE, menjaga produksi dan ketersediaan pasokan uap sama pentingnya dengan mengembangkan kapasitas baru,” kata Edwil.
Pengeboran ini berjalan beriringan dengan pengembangan proyek. Sejumlah proyek yang tengah dikembangkan antara lain PLTP Hululais Unit 1 dan 2, PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4, serta PLTP Lahendong Unit 7 dan 8.
Dari portofolio tersebut, PLTP Hululais telah mengantongi Perjanjian Jual Beli Uap (Steam Sales Contract/SSC) dan dipersiapkan untuk memasuki tahap Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC), dengan target beroperasi secara komersial pada 2028.
Sementara itu, PLTP Lumut Balai Unit 3 sudah memiliki Perjanjian Jual Beli Listrik (Power Purchase Agreement/PPA) dan telah melakukan pengeboran dua sumur. Proyek ini juga sudah memulai proses Front End Engineering Design (FEED), dengan target beroperasi secara komersial pada 2030.
Untuk mencapai target 1 GW pada 2028, PGE memprioritaskan 12 proyek dengan total kapasitas 320 MW. Lima proyek di antaranya, dengan kapasitas gabungan 105 MW, diakselerasi dari jadwal semula yang beroperasi setelah 2028.
