TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Beban Ekspor CPO Turun 20% di November, Manfaat bagi Rupiah Bergantung pada Ekspor B50

Busthomi
6 November 2026 | 14:21
rubrik: Ekonomi
Ekspansi, TLDN Resmikan Pabrik Hilirisasi Sawit di Kutai Timur

Ilustrasi kelapa sawit (CPO). FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness — Total bea keluar dan pungutan ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia turun 20% pada November menjadi US$246,36 per ton, dari US$308,27 pada Oktober.

Penurunan ini jauh lebih tajam dibandingkan koreksi harga referensi Kementerian Perdagangan yang hanya 6,07% menjadi US$978,90 per ton. EBC Financial Group (EBC) menilai beban ekspor yang lebih ringan membuat eksportir mengantongi lebih banyak dari setiap penjualan.

Namun, devisa ekspor Indonesia justru berpotensi berkurang jika produsen biodiesel menyerap minyak sawit yang sebenarnya bisa dikapalkan ke luar negeri. Rupiah hanya akan diuntungkan apabila program campuran biodiesel 50% (B50) menghemat lebih banyak dolar dari impor solar dibandingkan devisa yang hilang akibat berkurangnya ekspor minyak sawit.

Sana Ur Rehman, Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group, mengatakan, “Setiap ton minyak sawit punya dua calon pembeli, dan masing-masing membantu rupiah dengan cara berbeda.”

“Pembeli luar negeri mendatangkan dolar. Produsen biodiesel menghemat dolar yang seharusnya dikeluarkan Indonesia untuk mengimpor solar. Jalur yang lebih menguntungkan bagi rupiah adalah yang menghasilkan atau menghemat lebih banyak dolar per ton, dan perbandingan itu bergerak mengikuti harga minyak sawit dan harga solar. Jika solar semakin murah, setiap ton minyak sawit yang diolah menjadi biodiesel akan menghemat lebih sedikit dolar, meskipun volume yang masuk ke bahan bakar tetap sama. Pemangkasan beban ekspor mengubah apa yang dikantongi eksportir, sementara rupiah bergerak mengikuti dolar yang diperoleh atau dihemat,” kata dia, dalam keterangannya, Jumat (6/11/2026).

Kurs referensi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), berada di Rp18.140 per dolar AS pada 4 November. Posisi ini mendekati rekor terlemah di Rp18.183 pada 28 Oktober dan lebih lemah dibandingkan Rp18.047 pada 22 Oktober. Karena solar diimpor dengan harga dolar, pelemahan rupiah membuat setiap ton solar impor semakin mahal dalam rupiah. Itulah mengapa setiap dolar yang diperoleh Indonesia dari ekspor minyak sawit atau dihemat dari impor solar kian berarti bagi rupiah.

BACA JUGA:   Meski Melemah, Rupiah Bertahan di Level Rp 13.800-an

Kementerian Perdagangan menetapkan bea keluar November sebesar US$124 per ton dan pungutan ekspor sebesar US$122,36 per ton, dibandingkan US$178 dan US$130,27 pada Oktober.

Dengan harga jual yang tidak berubah, eksportir mengantongi tambahan US$61,91 untuk setiap ton. Namun, harga yang dibayar pembeli di luar negeri ditentukan pasar, sehingga devisa ekspor Indonesia berasal dari harga tersebut dikalikan dengan volume yang terjual.

Eksportir bisa menyimpan seluruh penghematan itu, atau memangkas harga untuk memenangkan pesanan. Jika harga diturunkan, volume yang harus dijual pun lebih besar untuk menghasilkan dolar yang sama. Harga referensi yang menjadi dasar penetapan beban ekspor turun sekitar US$63 per ton dari Oktober.

Eksportir yang harga jualnya turun dengan besaran yang sama akan mendapati penghematan US$61,91 tersebut hampir habis, sehingga yang dikantonginya per ton tak jauh berbeda dari Oktober.

Produksi dan Stok Biodiesel

Dalam program B50, biodiesel berbahan baku minyak sawit menyumbang separuh dari campuran solar, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pada 3 November bahwa pemerintah tetap mempertahankan program tersebut.

Penggunaan biodiesel dan ekspor dapat tumbuh bersamaan selama produksi dan stok mampu menutup kebutuhan. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat penggunaan minyak sawit untuk biodiesel naik dari 1,285 juta ton pada Juli menjadi 1,35 juta ton pada Agustus, sementara ekspor produk minyak sawit meningkat dan stok menurun.

Turunnya stok bisa berarti sebagian tambahan permintaan dipasok dari gudang, sehingga cadangan untuk bulan-bulan berikutnya semakin tipis. Produksi serta permintaan dari industri makanan dan pengguna dalam negeri lainnya juga menentukan seberapa banyak minyak sawit yang tersisa untuk ekspor.

Harga Solar

BACA JUGA:   Siang Ini, Rupiah Dekati Level 15.000 per Dolar AS

Ketika biodiesel menggantikan solar impor, importir membutuhkan lebih sedikit dolar untuk membayar pemasok luar negeri. Penghematan ini dapat mengimbangi sebagian devisa ekspor yang hilang ketika minyak sawit dialihkan dari pembeli luar negeri.

Besarnya penghematan mengikuti volume solar yang benar-benar tergantikan, yang bisa berbeda dari target campuran 50%. Harga minyak Brent, patokan harga minyak global, ditutup di US$103,60 per barel pada 3 November, penutupan terendah sejak 7 Oktober, setelah turun dari US$113,43 pada 30 Oktober di tengah sinyal kemajuan perundingan damai AS–Iran.

Harga minyak masih tergolong tinggi, sehingga setiap ton solar yang digantikan biodiesel tetap menghemat dolar dalam jumlah berarti. Namun, penurunan harga belakangan ini menunjukkan betapa cepat penghematan itu bisa menyusut.

Badan Pengelola Dana Perkebunan menanggung selisih antara harga indeks pasar resmi biodiesel dan solar. Harga solar yang lebih tinggi akan mempersempit selisih tersebut, kecuali biaya biodiesel naik secepat itu.

Sebaliknya, jika harga solar kelak turun sementara biaya biodiesel tidak berubah, selisihnya akan melebar. Pungutan ekspor minyak sawit turut mendanai pembayaran selisih tersebut, sehingga setiap ton yang dikapalkan ke luar negeri juga ikut menopang biodiesel di dalam negeri.

Pungutan ekspor turun US$7,91 per ton pada November, sehingga kontribusi setiap ton ekspor terhadap dana tersebut ikut menyusut. Apakah hal ini memengaruhi pembayaran dana bergantung pada saldo yang tersedia dan seberapa lebar selisih harga yang harus ditanggung.

EBC sebelumnya telah mencatat bahwa seberapa banyak solar impor yang digantikan B50, serta seberapa kuat pendanaannya bertahan di tengah perubahan harga minyak bumi dan minyak sawit, akan menunjukkan apakah program ini berhasil mencapai tujuannya mengurangi ketergantungan pada solar impor.

BACA JUGA:   Stabilisasi Harga, NFA Gandeng BUMN Serap Ayam dari Peternak

Tags: cpoEkspor CPOkelapa sawitrupiah
Previous Post

BEI Buka Sementara Perdagangan Saham PLAS untuk Transaksi Pengalihan Saham

Next Post

Ekonomi Indonesia Triwulan III-2026 Tumbuh 5,47%, Fundamental Kuat Jaga Momentum Pertumbuhan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR