Jakarta, BusinessNews Indonesia – Langkah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis points (bps) ke 4,5% beberapa waktu lalu tampaknya belum cukup ampuh untuk meredam gejolak rupiah terhadap dolar AS. Buktinya, kurs rupiah sejauh ini masih di atas level Rp 14.000 per dolar AS. Bahkan beberapa waktu lalu rupiah melemah hingga menembus Rp 4.200.
Sebab itu, BI memberi sinyal untuk kembali menaikan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan tambahan pada Rabu (30/5) mendatang.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, fokus bank sentral dalam jangka pendek yakni melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah melalui kebijakan suku bunga yang preempitve, front loading, dan ahead the curve. Hal ini dilakukan selain tetap konsisten menjaga inflasi agar berada di kisaran target sasaran inflasi 3,5% plus minus 1%.
“Oleh karena itu, kami sudah menjadwalkan RDG bulanan tambahan pada hari Rabu untuk merumuskan kebijakan ini,” kata Perry saat konferensi pers di kantor Kementerian Keuangan (Kemkeu), Senin (28/5). Namun Perry menegaskan bahwa RDG tambahan ini bukan RDG emergency.
Perry mengatakan, RDG bulanan tambahan dimungkinkan untuk dilakukan jika bank sentral ingin merespon secara cepat atas perkembangan kondisi terkini.
RDG bulanan tambahan juga sekaligus sebagai antisipasi Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan digelar pertengahan Juni mendatang.
“Ini juga sekaligus langkah preemptive untuk FOMC meeting 14 Juni yang akan datang. We want to be ahead the curve,” kata Perry.
