Jakarta, BusinessNews Indonesia—Bisnis pengembangan perumahan MBR (masyarakat berpenghasilan rendah) masih sangat menguntungkan. Sebab, tercatat adanya kekurangan pasokan rumah sebesar 11 juta unit di Indonesia.
“Artinya, ada 11 juta KK (kepala keluarga) yang belum punya rumah berdasarkan data BPS. Walau data ini diragukan oleh beberapa pihak, tetapi jelas bahwa Indonesia punya angka kekurangan rumah yang besar,” kata pengamat properti Asriman Tanjung, dalam keterangannya melalui surat elekteronik, yang diterima pagi ini oleh Majalah BusinessNews Indonesia.
Dia menjelaskan bahwa angka backlog tinggi, terutama di kota besar. Yakni Jakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar.
Maka, akan sangat menguntungkan jika seseorang memutuskan menjadi pengembang properti untuk membangun perumahan bagi MBR.
Walau begitu, kehati-hatian sangat diperlukan. Antar lain perlu memerhatikan syarat lokasi yang bisa dibangun perumahan MBR. “Juga harus menguasai strategi pemasaran,” kata dia.
Jika tidak menguasai sejumlah hal penting, proyek rumah MBR bisa mangkrak. “Saya sangat sering sekali menerima permintaan take over proyek karena developernya angkat bendera putih,” kata dia.
Yang banyak terjadi, ada orang yang menjadi pengembang properti bermodalkan semangat, dan tanpa ilmu langsung terjun.
“Akibatnya? Ya itu tadi, proyek mangkrak, utang menumpuk, dan dikejar-kejar orang,” kata dia.
