Jakarta, BusinessNews Indonesia – Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengatakan jika terjadi kenaikan suku bunga untuk kedua kalinya di bulan ini sudah melewati momentum kenaikan karena dampaknya sudah terjadi di awal. Namun, kenaikan yang di luar perkiraan pasar nantinya justru menambah sentimen negatif.
“Jadi sekarang akan berdampak berbeda jika naiknya setengah, jika naik seperempat hanya psikologis memenuhi ketinggalan terjadinya dampak ekonomi. Nah kita nunggu, sayangnya begitu suku bunga naik inflasinya merangkak,” kata Tito di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (30/5/2018).
Bank Indonsia diprediksi akan kembali kenaikan suku bunga sebesar 25 bps dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia Rabu ini.
Menurut Tito, kenaikan suku bunga merupakan musuh terbesar dari pasar saham. Sehingga jika terjadi kenaikan suku bunga hingga 50 bps maka akan berdampak pada kenaikan suku bunga bank. “Kalau 0,5% gak bisa bank tidak naikin lagi (bunga kredit),” kata dia.
Saat ini pasar saham sudah terlalu banyak dilingkupi oleh berbagai sentimen negatif global. Seperti isu perang dagang antara China dan Amerika Serikat, krisis Italia dan jatuhnya harga bank-bank besar dunia. Seluruh negara terkena dampak tersebut, tak terkecuali Indonesia.
Ditambah lagi dengan rebalancing (penataan kembali) portofolio indeks MSCI yang akan dilakuka pada akhir bulan ini yang kemungkinan akan mendilusi saham-saham di Indonesia. “China itu ada 230 aham seri A membuat US$ 5 miliar dari Vietnam, Filipina, Indonesia dan Malaysia pindah ke China tapi semuanya jadi satu tapi menurut saya dampak restore in-nya akan terjadi besok,” kata dia.
