TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Serunya Serbuan E-Commerce di Indonesia

Achmad Adhito
14 June 2018 | 10:55
rubrik: Business Info
Serunya Serbuan E-Commerce di Indonesia

Ilustrasi (Sumber: Istimewa)

Di tahun 2017, jenis e-commerce di Indonesia semakin banyak, indeks IPTIK Indonesia pun naik. Tahun 2018, gemuruh e-commerce diprediksi berlanjut.

Internet itu memudahkan, bukan menyulitkan. Hampir semua orang tidak menyanggah hal tersebut, bukan? Betapa tidak, berbagai hal bisa dimudahkan via internet melalui perangkat pengaksesnya seperti telepon genggam cerdas (smart phone) ataupun yang lainnya.

Sejalan dengan kian derasnya penetrasi internet di Indonesia, intensitas e-commerce (electronic commerce) kian berjibun, kian bervariasi. Berbagai bidang bisnis dijamuri oleh banyak pelaku e-commerce.

Hal itu terus berlangsung di tahun 2017. Tahun itu, sejumlah situs e-commerce financial technology (fintech) terus berdatangan di tanah air ini. Kehadiran pemain fintech itu melengkapi jenis e-commerce di Indonesia, di mana sebelumnya ada e-commerce perdagangan ritel (Lazada.co.id; Bukalapak.com; dan lain-lain), e-commerce transportasi (Gojek; GrabBike; dan lain-lain); dan masih banyak lagi yang lainnya.

Yang bisa dikatakan jenis baru dalam khazanah fintech, adalah crowd funding. Secara sederhana, dapat kita sebut bahwa crowd funding adalah praktik pendanaan bisnis lewat pengumpulan dana dari sejumlah investor. Dulu, crowd funding berlangsung tanpa internet. Dan kini, di dunia termasuk Indonesia baru-baru ini, crowd funding bisa berlangsung via internet.

Salah satu pelopor crowd funding via internet di Indonesia, adalah Akseleran.com. Perusahaan ini mulai beroperasi di tahun 2017, dan berkantor pusat di Jakarta. Chief Executive Officer Akseleran, Ivan Nikolas Tambunan, mengatakan bahwa pihaknya bertujuan mencarikan alternatif bagi investor.

Adapun misi lainnya adalah membantu UKM (usaha kecil dan menengah) mendapatkan dana. “Banyak UKM di Indonesia yang tidak bisa mengakses dana perbankan. Perkiraan kami, 40 juta UKM di Indonesia, tidak punya akses ke kredit perbankan,” dia pernah menjelaskan ke wartawan majalah ini.

BACA JUGA:   PP Properti Donasikan Bantuan Untuk Penderita Kanker

Ketika kita membuka situs perusahaan tersebut, ada berbagai hal menarik di situ. Lihat saja, ada menu yang memungkinkan pengunjung mendaftar sebagai pihak pencari dana, ataupun menu yang memungkinkan investor menawarkan dana.

Terlihat pula kampanye penggalangan dana bagi sejumlah proyek bisnis. Dana yang ingin dihimpun per proyek itu bervariasi, berkisar puluhan juta Rupiah sampai miliaran Rupiah.

 

Naiknya Penetrasi Internet

Selain Akseleran, sudah tentu ada banyak contoh kiprah menarik lain e-commerce di Indonesia, sepanjang tahun 2017. Misalnya, langkah Gojek mengakuisisi dua perusahaan e-commerce, yakni Kartuku dan Mid Trans.

Paralel dengan semaraknya e-commerce di Indonesia, tingkat penetrasi internet pun makin naik. Menurut prediksi E-Marketer (lembaga riset pasar), pengguna internet di Indonesia di 112 juta orang di tahun 2017; tahun 2014, angka itu di 83,7 juta orang.

Badan Pusat Statistik RI (BPS), belum lama ini merilis Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IPTIK) terbaru. Itu merupakan indeks ukuran standar, yang dapat menggambarkan tingkat pembangunan teknologi informasi dan komunikasi suatu wilayah. Juga, menggambarkan kesenjangan digital serta pengembangan TIK.

Ada 11 indikator IPTIK yang digunakan. Nah, 11 indikator itu dibagi menjadi tiga penyusun subindeks yaitu: subindeks akses dan infrastruktur; subindeks penggunaan; subindeks keahlian. Nilai subindeks paling tinggi adalah subindeks keahlian sebesar 5,54; diikuti subindeks akses dan infrastruktur sebesar 4,88; subindeks penggunaan sebesar 3,19.

Selanjutnya, ada dijelaskan bahwa, di tahun 2016, indeks untuk Indonesia sebesar 4,34. Maka, naik dibandingkan di tahun 2015 yang di 3,88. IPTIK tingkat propinsi, secara rata-rata, naik dari tahun 2015 ke 2016. Adapun propinsi dengan IPTIK tertinggi di tahun 2016 adalah DKI Jakarta dengan angka 7,41; yang terendah yakni Papua dengan 2,41.

BACA JUGA:   Konsumsi RT Dominan, RI Dilirik E-Commerce Asing

Dari 176 negara, peringkat IPTIK Indonesia di tahun 2016 ada di nomor 111. Sebuah perbaikan daripada di tahun 2015 yang ada di nomor 114. Lebih lanjut, pihak BPS menjelaskan satu hal sangat menarik.

Yakni, bahwa Indonesia termasuk dalam 10 besar most dynamic country untuk kenaikan nilai IPTIK dari 3,85 pada tahun 2015 menjadi 4,33 pada tahun 2016 . Hal itu dinyatakan oleh International Telecommunication Union, dalam Measuring Information Society Report 2017.

 

Prediksi Tahun 2018

Selanjutnya, seperti apa kondisi e-commerce di Indonesia di tahun 2018 ? Kepala Lembaga Riset Telematika Sharing Division, Dimitri Mahayana, mengatakan bahwa pertumbuhan e-commerce di Indonesia lebih besar ketimbang rata-rata global. E-commerce Indonesia tumbuh 39,6% per tahun. “Tahun 2017, angka transaksi diprediksi di Rp 561,8 triliun. Sedangkan nilai Rp 1.500 triliun diperkirakan ada di tahun 2020,” kata dia seperti ditulis situs PikiranRakyat.com.

Dia pun menjelaskan bahwa, saat ini, kontribusi e-commerce terhadap seluruh sektor perdagangan baru di 2% sampai 3%. Dan di tahun 2018, nilai tersebut diprediksi naik ke 5%.

Sepertinya, data tentang e-commerce akan lebih baik untuk selanjutnya. Pasalnya, pihak BPS merencanakan sebuah langkah strategis di masa mendatang. Yakni, proses perekaman data e-commerce akan dimulai di pekan pertama atau kedua 2018. Hasil perhitungan, ada di sebulan setelah itu. “Data yang akan dikeluarkan BPS antara lain omset, investasi asing atau lokal, transaksi, metode pembayaran, tenaga kerja, serta teknologi,” kata Kepala BPS, Suhariyanto, kepada media massa.

Subjeknya adalah perusahaan anggota Indonesia E-Commerce Association. Jumlah anggota asosiasi itu sebanyak 320 perusahaan.

Kita meyakini bahwa e-commerce di Indonesia makin semarak di masa mendatang, bukan? (Dhi)

BACA JUGA:   Akseleran Pecah Rekor Pinjaman Usaha!

 

*Tulisan Ini Sebelumnya Dimuat di Majalah BusinessNews Indonesia Edisi Februari 2018

Tags: crowd fundinge-commercee-crowd fundingindonesia e-commerce associationiptik
Previous Post

Springwood Residence Bagikan Sembako ke Ratusan Warga

Next Post

Jembatan Kali Kuto Digarap Lagi Usai Lebaran

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR