
Jakarta, businessnews.id — Bank Indonesia mencatat total utang luar negeri dari korporasi swasta pada akhir triwulan I 2014 mencapai USD 146 miliar. Angka itu menunjukkan peningkatan signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu. Maka, Bank Indonesia memandang perlu pengawasan yang lebih ketat.
Menurut Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo, di Jakarta (9/5/2014), untuk terus menjaga kinerja neraca pembayaran yang telah membaik di triwulan I 2014, diperlukan pemantauan berapa risiko global dan domestik. “Salah satunya memantau perkembangan utang luar negeri milik swasta,“ terang dia.
Agus memerkirakan, defisit neraca pembayaran Indonesia menurun pada triwulan I 2014 ke angka 2,06 persen dibanding PDB (produk domestik bruto ). Itu bila dibandingkan dengan angka 2,12 persen dari PDB di triwulan IV tahun 2013.
“Penurunan itu karena adanya kontraksi impor non-migas sejalan dengan moderasi pertumbuhan ekonomi, meskipun ekspor juga mengalami kontraksi,” terangnya.
Dengan perkembangan positif pada neraca perdagangan Indonesia di April 2014, Bank Indonesia mencatat bahwa cadangan devisa meningkat menjadi USD 105,6 miliar. Angka ini setara dengan 6,1 bulan impor dan 5,9 bulan pembayaran utang luar negeri Pemerintah Indonesia.
Sedangkan pada triwulan II dan III 2014, defisit transaksi neraca tersebut akan meningkat sesuai dengan pola musiman, antara lain akibat peningkatan impor menjelang Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Juga, seirama dengan repatriasi pendapatan dan pembayaran bunga.
“Namun, secara keseluruhan, di tahun 2014 defisit transaksi berjalan diperkirakan tetap di bawah 3 persen dari PDB.” (ZIZ)
EDITOR: DHI