TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Rupiah Kian Loyo, Dijual Rp 14.225 per Dolar AS

Nurdian Akhmad
28 June 2018 | 09:23
rubrik: Business Info
Dolar AS Menguat Tipis Terhadap Mata Uang Utama

Foto: istimewa

Jakarta, BusinessNews Indonesia – Pasca libur Pilkada, nilai tukar rupiah langsung melemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah kini berada di posisi terlemahnya sejak Oktober 2015.

Pada Kamis (28/6/2018), US$ 1 pada pembukaan pasar spot berada di Rp 14.215. Rupiah melemah 0,29% dibandingkan sebelum libur Pilkada kemarin.

Seiring perjalanan pasar, rupiah terus melemah. Pada pukul 08:20 WIB, US$ 1 sudah dihargai Rp 14.225, di mana rupiah melemah 0,37%. Rupiah pun berada di titik terlemah sejak awal Oktober 2015, nyaris tiga tahun lalu.

Tidak hanya rupiah, berbagai mata uang Asia pun kurang bertaji menghadap greenback. Namun dengan pelemahan 0,37%, rupiah menjadi mata uang dengan depresiasi terdalam kedua di kawasan. Rupiah hanya lebih baik ketimbang rupee India.

Berikut perkembangan nilai tukar sejumlah mata uang utama Asia terhadap dolar AS pada pukul 08:24 WIB, mengutip Reuters:

Mata Uang Bid Terakhir Perubahan (%)
Yen Jepang 110,04 +0,19
Yuan China 6,59 -0,35
Won Korea Selatan 1.121,11 +0,12
Dolar Taiwan 30,54 -0,10
Rupee India 68,63 -0,39
Dolar Singapura 1,37 -0,04
Ringgit Malaysia 4,04 -0,22
Baht Thailand 33,04 +0,03
Peso Filipina 53,51 +0,10

Pagi ini seperti dikutip CNBC Indonesia, dolar AS masih perkasa meski penguatannya jauh berkurang. Dollar Index (yang mengukur posisi dolar AS di hadapan enam mata uang utama) menguat tipis 0,03% pada pukul 08:29 WIB. Padahal dini hari tadi, indeks ini sempat menguat di kisaran 0,6%.

Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan yang lebih agresif oleh The Federal Reserve/The Fed masih ampuh untuk mendorong penguatan greenback. The Fed kini bisa dibilang satu-satunya bank sentral di negara maju yang sudah terang-terangan bicara kenaikan bunga dan normalisasi kebijakan moneter. Sementara bank sentral lain seperti European Central Bank (ECB) sepertinya baru menaikkan suku bunga acuan pada kuartal III-2019.

BACA JUGA:   AS Tetap Butuhkan Baja dari RI

Apalagi Bank of England (BoE) juga tengah terpecah konsentrasinya jelang pertemuan lanjutan untuk membahas keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit Meeting). BoE tengah memastikan bahwa sektor keuangan Inggris siap untuk menghadapi Brexit. Oleh karena itu, pasar pun menyangsikan apakah BoE akan mengeksekusi kenaikan suku bunga acuan pada Agustus mendatang.

Dolar AS semakin melaju kala Bank Sentral China, People’s Bank of China (PBoC), turun tangan melemahkan nilai tukar yuan. Dalam beberapa waktu terakhir, PBoC menurunkan nilai tengah yuan dengan tujuan memperlemah mata uang ini.

Tags: dolar ASrupiah
Previous Post

PUPR Gaet Status Laporan Keuangan WTP

Next Post

Menguat Tipis, IHSG Pagi Ini di Level 5.791

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR