Jakarta, BusinessNews Indonesia—Indonesia memiliki ramuan yang tepat untuk sukses di era digital banking, yang didorong oleh harga smartphone yang terjangkau, populasi yang terdiri dari anak muda, dan peningkatan pendidikan dasar. Hal ini disebutkan oleh DBS Group Research, dalam siaran pers yang diterima tadi pagi oleh Majalah BusinessNews Indonesia.
Keadaan ini hampir dapat disejajarkan dengan kondisi Tiongkok saat ini.
DBS memerkirakan bahwa terdapat potensi pada e-money sebesar Rp 3.000 triliun dan potensi pendapatan sebesar Rp 47 triliun dari pendapatan layanan pada 2030.
Setiap pengurangan 1 ppt terhadap rasio biaya dibanding pendapatan yang diperoleh dari otomasi, maka dapat diartikan peningkatan keuntungan sebelum pajak sejumlah 2,5% bagi industri.
Teknologi dapat digunakan untuk menjangkau populasi yang belum menggunakan jasa bank dalam memercepat inklusi keuangan dan membuka kesempatan bisnis baru kepada bank, demikian menurut pihak DBS.
Data DBS Group Research menunjukkan bahwa bank di Indonesia telah memersiapkan produk digital mulai dari yang mendasar seperti dari internet banking, artificial intelligence (AI) chatbot, hingga perdagangan keuangan blockchain.
Akan tetapi, tidak semua bank telah melakukan digitalisasi sampai ke intinya. Hal ini dapat menciptakan gangguan yang mengurangi kredibilitas dan menyia-nyiakan anggaran iklan.
