Jakarta, BusinessNews Indonesia – PT Kalbe Farma Tbk menggenjot volume ekspor produk farmasi guna menyiasati gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Saat ini, ada sekitar 5-6% dari total produksi Kalbe yang dilempar ke pasar ekspor.
“Gejolak kurs ini jadi kesempatan bagi kami untuk mendoron ekspor. Kita biasanya ekspor produk ke sejumlah negara-negara Asean,” ujar Presiden Direktur Kalbe Vidjongtius di Jakarta, Rabu (18/7/2018).
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam beberapa bulan ini terus bergejolak. Pada pekan ini, kurs rupiah berfluktuasi di kisaran level Rp 14.300-14.400 per dolar AS.
Dia mengakui, pelemahan rupiah sedikit banyak mempengaruhi biaya produksi obat karena sekitar 90% bahan baku obat di Kalbe masih diimpor. “Kalbe sendiri berupaya melakukan penelitian setiap tahun. Kami investasi sekitar Rp200 miliar- Rp300 miliar per tahun untuk penelitian,” ujar dia.
Secara industri, Vidjongtius memperkirakan pertumbuhan industri farmasi tahun ini bisa mencapai 5% sampai 7% sejalan dengan tingkat kebutuhan masyarakat. Pertumbuhan industri farmasi yang merupakan barang konsumsi akan seiring dengan pertumbuhan ekonomi.
“Pertumbuhan obat masih positif karena memang kebutuhan dasar masyarakat. Namun ada tantangan impor karena rupiah melemah, ini yang harus dihadapi,” kata dia.
