Jakarta, BusinessNews Indonesia – Harga batubara yang terus meningkat di sepanjang semester I-2018 telah berdampak positif terhadap kinerja PT Bukit Asam Tbk (PTBA) di enam bulan pertama tahun ini.
Tercatat, perseroan yang kini menjadi anak usaha holding BUMN tambang itu meraup laba yang cukup signifikan yakni mencapai Rp2,58 triliun atau naik 49 persen secara year on year dari periode sebelumnya yakni Rp 1,72 triliun.
“Sehingga dengan kinerja kami yamg seperti itu membuat laba per lembar saham juga meningkat dari Rp164 di semester I-2017 menjadi Rp244 di semester I-2018 ini ” ungkap Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin di Jakarta, Senin (23/7/2018).
Dengan kenaikan laba tersebut, kata dia, rasio profitabilitas lainnya juga melonjak. Seperti gross profit margin (GPM) dari 37 persen menjadi 42 persen (yoy), operating profit margin (OPM) dari 28 persen menjadi 33 persen (yoy), serta net profit margin (NPM) dari 19 persen menjadi 24 persen.
Lonjakan laba ini tak lepas dari harga batubara yang juga meningkat sepanjang paruh pertama tahun ini. Harga jual di semester I-2018 itu, lanjut Arviyan, naik 8 persen (yoy) dari Rp770.938/ton menjadi Rp838.288/ton.
Kenaikan harga tersebut, kata dia, dipengaruhi oleh kenaikan rata-rata batubara Newcastle mencapai 29 persen, serta kenaikan harga rata-rata batubara thermal Indonesia (thermal coal index/ICI) GAR 500 sebesar 13 persen (yoy).
Arviyan melanjutkan, porsi penjualan batubara ekspor selama enam bulan pertama 2018 menyumbang 51 persen dari total pendapatan, kendati porsi penjualan ekspor hanya 48 persen dari total volume penjualan itu.
Sedangkan 49 persen sisanya disumbang oleh kombinasi pendapatan antara penjualan batu bara domestik dan pendapatan aktivitas usaha lainnya.
Rinciannya, 46 persen disumbang oleh penjualan batu bara domestik dan tiga persen sisanya diperoleh dari penjualan listrik, briket, minyak sawit mentah, jasa kesehatan rumah sakit, dan jasa sewa.
“Dengan demikian, pendapatan dari penjualan batubara ekspor dengan negara tujuan utama seperti China, India, Thailand, Hong Kong, dan Kamboja menjadi penyebab peningkatan nilai pendapatan usaha perseroan itu yang mencapai Rp10,53 triliun di semester I-2018 itu,” pungkas Arviyan.
