TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Ada Perang Dagang, OJK Sebut Pasar Keuangan Stabil

Busthomi
25 July 2018 | 17:23
rubrik: Business Info
OJK Keluarkan Aturan Dukung Obligasi Pemda

FOTO: Istimewa

Jakarta, BusinessNews Indonesia – Rapat Dewan Komisioner (RDK) bulanan Otoritas Jasa Keuangan Juli ini menilai, stabilitas sektor jasa keuangan dan kondisi likuiditas di pasar keuangan Indonesia masih dalam kondisi terjaga.

Hal ini dianggap positif meski di tengah ketidakpastian pasar keuangan yang dipicu sentimen negatif dari eskalasi perang dagang AS dan China yang telah mendorong pelemahan pasar keuangan global.

Selain itu, perekonomian global juga menghadapi tantangan berkurangnya likuiditas seiring dengan berlanjutnya normalisasi kebijakan Bank Sentar AS, The Fed dan inflasi personal consumption expenditure AS Juni 2018 yang telah mencapai target sebesar 2%.

“Perkembangan ini menyebabkan tekanan di pasar keuangan global, khususnya di emerging market. Seperti Indonesia,” ungkap Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik OJK, Anto Prabowo, di Jakarta, Rabu (25/7/2018).

Sejalan dengan perkembangan kondisi global tersebut, OJK melihat, pasar keuangan domestik juga mengalami tekanan. Seperti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Juni 2018 melemah sebesar 3,08% ditutup di level 5.799,2. Dengan investor nonresiden mencatatkan net sell sebesar Rp9,1 triliun.

Namun, memasuki Juli 2018 tekanan sedikit mereda. IHSG pada 24 Juli 2018 ditutup di level 5.931,8 atau tumbuh 2,29% sejak awal Juli 2018, dan mencatatkan net buy investor nonresiden sebesar Rp795 miliar. “Meski jika dihitung sejak awal 2018 masih mencatatkan net sell sebesar Rp50,2 triliun,” ujar Anto.

Di pasar SBN, kata dia, per Juni 2018, yield SBN tenor jangka pendek, menengah dan panjang masing-masing naik sebesar 44,0 bps, 79,3 bps, dan 55,1 bps (Mei 2018: rata-rata meningkat 27,7 bps). Hal ini membuat investor nonresiden mencatatkan net sell di pasar SBN sebesar Rp3,6 triliun.

BACA JUGA:   BP Temukan Cadangan Besar Migas di Andaman

“Di tengah tekanan ke pasar keuangan domestik tersebut, kinerja intermediasi sektor jasa keuangan pada Juni 2018 secara umum masih terjaga walaupun turut mengalami moderasi (berbagai indikator masih menunjukkan pertumbuhan meski melambat dibanding tahun sebelumnya),” papar dia.

Untuk piutang pembiayaan sampai Juni 2018 tumbuh 5,18% yoy (Mei 2018: 6,37% yoy). Premi asuransi jiwa dan asuransi umum/reasuransi masing-masing tumbuh sebesar 29,4% yoy dan 15,9% yoy.

Sementara itu di sektor perbankan, untuk pertumbuhan kredit perbankan Juni 2018 mengalami peningkatan sebesar 10,75% yoy (Mei 2018: 10,26% yoy). Sedangkan penghimpunan dana, yakni Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh 6,99% yoy (Mei 2018: 6,47%).

Di pasar modal, penghimpunan dana hingga Juni 2018 mencapai Rp108 triliun. Emiten baru tercatat sebanyak 31 perusahaan atau lebih banyak dibanding posisi Januari – Mei 2018 sebesar 18 perusahaan. Total dana kelolaan investasi hingga Juni 2018 mencapai Rp706,2 triliun.

“Jadi di tengah sentimen yang mewarnai pasar keuangan domestik, risiko Lembaga Jasa Keuangan/LJK (risiko kredit, pasar, dan likuiditas) masih terjaga pada level yang manageable,” katanya.

Hal ini ditunjukkan dari rasio Non-Performing Loan (NPL) gross perbankan sebesar 2,67% (Mei 2018 sebesar 2,79%) dan rasio Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan tercatat sebesar 3,15% (Mei 2018 sebesar 3,12%).

Sementara itu, permodalan LJK juga terjaga dengan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan sebesar 21,91% serta rasio solvabilitas (Risk Based Capital/RBC) asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing sebesar 333% dan 455%.

“OJK oun terus memantau risiko yang akan muncul dari dinamika perekonomian global dan dampaknya terhadap likuiditas pasar keuangan dan kinerja sektor jasa keuangan nasional,” pungkas Anto.

Tags: ojk
Previous Post

Perdagangan Ditutup, IHSG dan Rupiah Kompak Menguat

Next Post

IHSG Dibuka Naik ke Level 5.963

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR