Jakarta, BusinessNews Indonesia – PT BNI Syariah berhasil mencatatkan kinerja positif sepanjang triwulan II-2018 ini. Perseroan berhasil mengantongi laba bersih mencapai Rp202,9 miliar atau naik 23,0 persen dibanding periode yang sama tahun lalu (year on year) yang sebesar Rp165,1 miliar.
Menurut Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo, kenaikan laba bersih tersebut disokong oleh ekspansi pembiayaan, peningkatan fee based, dan rasio dana murah yang optimal.
Memang tercatat, ekspansi pembiayaan perseroan memang cukup masif. “Iya dari sisi bisnis, pembiayaan BNI Syariah memang bertumbuh 11,4 persen triwulan II-2018 ini atau sebesar Rp25,1 triliun,” ungkap Firman di Jakarta, Kamis (26/7/2018).
Dia menegaskan, dengan kontribusi pertumbuhan pembiayaan sampai dengan bulan Juni tahun 2018 terdiri dari segmen konsumer sebesar Rp12,9 triliun (51,5 persen), diikuti segmen kecil dan menengah sebesar Rp5,5 triliun (22,0 persen), segmen komersial Rp5,3 triliun (21,0 persen), segmen mikro Rp995,5 miliar (4,0 persen), dan Hasanah Card Rp387,5 miliar (1,5 persen).
“Meski pembiayaan bertumbuh, tapi dalam menyalurkan pembiayaan itu, BNI Syariah terus menjaga kualitas pembiayaan ksmi,” tandas dia.
Hal ini, kata dia, terlihat dari rasio pembiayaan macet atau Non Performing Financing (NPF) BNI Syariah hingga bulan Juni 2018 yang mencapai 3,04 persen. “Angka tersebut memang masih tinggi, tapi di bawah rata-rata industri yang mencapai 4,06 persen (data SPS per April 2018 BUS-UUS),” jelas Firman.
Selain pembiayaan, imbuh dia, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga meningkat tinggi yakni mencapai Rp32,4 triliun atau naik 21,5 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan industri sebesar 16,5 persen (data SPS per April 2018 BUS-UUS).
“Dengan jumlah nasabah sebesar 2,6 juta. Komposisi DPK tersebut masih didominasi oleh dana murah (giro dan tabungan) yang mencapai 52,8 persen,” ungkap Firman.
Cerminan pertumbuhan tersebut, dia menambahkan, juga terlihat dari aset BNI Syariah pada triwulan II-2018 yang mencapai Rp37,7 triliun atau naik sebesar 22,9 persen dari triwulan 2 tahun 2017. Angka tersebut juga masih lebih tinggi dari pertumbuhan industri sebesar 16,9 persen sesuai data SPS per April 2018 BUS-UUS.
