Jakarta, BusinessNews Indonesia – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) merilis data penurunan ekspor minyak sawit Indonesia pada Semester I-2018 sebesar 2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara volume, penurunan itu dari 15,62 juta ton menjadi 15,30 juta ton.
Penurunan ekspor minyak sawit tercatat ke India hingga 34%, Uni Eropa sebesar 12%, dan Afrika mencapai 10%.
Minyak sawit yang diekspor itu termasuk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), palm kernel oil (PKO), dan produk turunan termasuk oleochemical dan biodiesel. Di sisi lain, produksi minyak sawit justru naik cukup signifikan sebesar 23% dari 18,15 juta ton menjadi 22,32 juta ton.
“Turunnya ekspor ke India karena tingginya bea masuk yang diterapkan India dengan alasan untuk melindungi industri refinery di dalam negerinya,” tulis keterang pers Gapki, Jumat (27/7/2018),
Adapun penurunan ke Uni Eropa karena adanya isu deforestasi dan kebijakan penghapusan biofuel berbasis sawit oleh parlemen Eropa.
Sementara itu, peningkatan ekspor terjadi untuk pengiriman ke China mencapai 23% atau dari 1,48 juta ton menjadi 1,82 juta ton. Kenaikan ini dinilai karena adanya penurunan pajak pertambahan nilai untuk minyak nabati dari 11% menjadi 10% sejak 1 Mei 2018.
Pengiriman ke Amerika Serikat juga meningkat menjadi 611,08 ribu ton, atau naik 13% dari sebelumnya 542,70 ribu ton. Kenaikan juga terjadi di Bangladesh sebesar 31%, Pakistan 7% dan negara Timur Tengah 4%
