
Jakarta, businessnews.id — Menggunakan arsitektur TI (teknologi informasi) tertentu yang mengumpulkan dan menganalisis berbagai data, analis yunior di sebuah perusahaan efek bisa menyamai kompetensi manajernya. Analis itu bisa mengeluarkan analisis rekomendasi ekonomi berdasarkan sistem TI tersebut.
Presiden Direktur IBM Indonesia, Gunawan Susanto, mengatakan hal itu di Jakarta (14/5/2014) dalam seminar Big Data,Big Business, Big Solution.
Gunawan mengatakan, analis yunior setiap hari menyimak berbagai sumber informasi ekonomi seperti perkembangan harga minyak, inflasi, deflasi, dan lain-lain. Informasi ataupun data dari situ akan diolah oleh sistem itu. Sehingga, muncullah poin-poin tertentu untuk sumber rekomendasi.
“Memang, keluaran dari sistem itu tidak langsung berupa rekomendasi jual atau beli saham tertentu. Tapi cukup membantu,” dia berkata.
Dengan begitu, kemampuan analis yunior itu hampir sama dengan manajernya. “Untuk menata portofolio, tidak perlu lagi tergantung kepada hanya dua-tiga manajer.”
Arsitektur TI seperti itu dengan demikian memaksimalkan fungsi kumpulan data dan menganalisisnya, kata dia.
Dalam Piala Dunia 2014, manfaat arsitektur seperti itu bisa sangat terasa. Tren tertentu bisa dianalis dengan cepat sehingga meningkatkan penjualan souvenir. “Kita andaikan saja bahwa ada pemain Jepang yang tiba-tiba meroket karena mencetak banyak gol lalu menjadi trending topic. Semua itu bisa terbaca oleh arsitektur itu. Lantas, suvenir boneka pemain itu bisa dibuat dengan cepat.
Maka platform TI seperti itu menyediakan cara yang lebih baik dalam menggunakan kumpulan data, kata dia.