TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

BI Kembali Minta Korporasi Cermati Utang Luar Negeri

Nurdian Akhmad
19 May 2014 | 17:54
rubrik: Ekonomi
Agus Martowardojo (Dhit/BusinessNews)
Agus Martowardojo (Dhit/BusinessNews)

Jakarta, businessnews.id — Utang luar negeri korporasi mulai menjadi perhatian Bank Indonesia, sebab nilainya kian mengelembung. Sehingga akan mudah terkena dampak kenaikan suku bunga global akibat rencana The Federal Reserve (Bank Sentral Amerika Serikat) menaikkan suku bunga serta melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap USD. Itu dikatakan oleh Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, di Jakarta hari ini.

Dia mengatakan, korporasi di negara berkembang banyak yang mengeluarkan surat utang di luar negeri.

Sekarang, The Federal Reserve akan menjalankan pengurangan stimulus pasar (tapering off) yang diikuti kenaikan suku bunga acuannya. Maka korporasi negara berkembang dan juga Indonesia, harus mengantisipasinya.”Itu tentunya akan berdampak adanya dana keluar dari negara berkembang yang fundamental ekonominya kurang baik,” kata dia.

Di samping itu, Agus juga menilai perlunya mewaspadai risiko kerugian korporasi yang diakibatkan valas. Korporasi baik swasta maupun BUMN (badan usaha milik negara) harus mewaspadai hal itu. “Kami minta korporasi termasuk BUMN untuk mengelola utang luar negerinya dengan baik.”

Hal yang dipandang perlu diperhatikan oleh korporasi, pertama, agar tidak terjadi ketidaksesuaian antara penerimaan dalam bentuk Rupiah namun pinjaman dalam bentuk valas, sehingga berakibat pada risiko nilai tukar.

Kedua, terkait dengan risiko jatuh tempo. Misalnya kalau mendapat pinjaman jangka pendek, p endanaan tersebut jangan dipergunakan untuk pembiayaan jangka panjang.

Ketiga, risiko terkait dengan tingkat bunga, misalnya ketika mendapat tingkat bunga floating namun penempatannya dalam fix sehingga akan menimbulkan risiko gagal bayar.

Sebagaimana diketahui, posisi utang luar negeri korporasi baik swasta maupun BUMN telah mencapai USD 141 miliar. (ZIZ)

EDITOR: DHI

BACA JUGA:   Kelompok Pengeluaran Ini Naik, Picu Inflasi Maret
Tags: utang luar negeri swasta
Previous Post

Sistem Keuangan RI Perlu Dikembangkan Ikuti Kecepatan Pasar

Next Post

Risiko Kredit dan Likuiditas Bank Perlu Dicermati

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR