Jakarta, TopBusiness—Beberapa jenis sektor properti sudah lebih dulu bergerak ke pemulihan. Itu adalah sektor kawasan industri, perhotelan, dan properti ritel.
Hal tersebut dikatakan oleh Senior Associate Director Colliers Indonesia, Ferry Salanto, hari ini dalam media briefing untuk wartawan, yang digelar melalui jaringan internet.
Ferry mengatakan bahwa, ketika dilihat dalam sebuah jam siklus properti, sektor-sektor tersebut kini sudah melewati jam enam dan bergerak naik ke jam tujuh-delapan. “Jadi, sektor tersebut sudah mulai pemulihan,” dia menegaskan.
Dia menjelaskan bahwa, untuk sektor ritel, kunci pemulihan adalah pelonggaran pengetatan mobilitas masyarakat sehubungan dengan Covid-19. Dalam hal ini, pelonggaran tersebut diharapkan cepat memulihkan sektor properti ritel.
Adapun dari segi keseimbangan pasokan dengan permintaan pasar, properti ritel kini pada posisi moderat. Tarif sewa properti ritel cenderung stabil di Jakarta di Rp566.095 per m2. Sedangkan di Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) tarif tersebut pun stabil di Rp384.121 per m2.
Sektor properti ritel pun, Ferry menambahkan, memerlukan regulasi yang bisa lebih menggeliatkan pergerakan. Contohnya adalah tidak adanya pembatasan pengunjung yang terlalu ketat.
Untuk perhotelan, pemulihan yang sudah terjadi, juga disebabkan oleh perlonggaran pembatasan mobilitas masyarakat.
Pulih Lebih Lama
Ferry pun menyebut sektor properti yang pemulihannya lebih lama. Yakni perkantoran dan apartemen. “Berbeda dengan sektor apartemen, sektor landed house sudah mulai membaik,” kata dia.
Perkantoran kemungkinan masih berat untuk pulih di tahun 2022 ini. Di Jakarta, pada tahun 2022 ini pasokan properti perkantoran masih banyak dibandingkan tingkat permintaan. Tahun 2023 pun, diperkirakan bahwa masih ada gedung perkantoran baru, yang masuk ke pasar.
Pasokan kumulatif properti perkantoran di CBD Jakarta sebanyak 7,04 juta m2. Kalau di non-CBD Jakarta, angka itu di 3,69 juta m2. “Jadi, properti perkantoran mendapatkan penurunan demand. Namun, pasokan baru, banyak. Maka ada kelebihan pasokan dalam beberapa tahun ke depan.”
Di akhir tahun 2022, tingkat hunian properti perkantoran di CBD Jakarta diperkirakan turun -3,20% year on year. Sedangkan di non-CBD Jakarta, angka itu diprediksi di -4,6% year on year.
Untuk Kota Surabaya, tingkat hunian properti perkantoran diprediksi lebih rendah. Persisnya, pada akhir 2022, tingkat hunian itu diperkirakan di 55%. Angka ini lebih rendah daripada di Jakarta yang masih di 80%-an.
“Di Surabaya, rumah dan ruko, masih menjadi alternatif untuk pelaku bisnis,” Ferry berkata.
