TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Waah…Gawat, 34% Utang Luar Negeri Korporasi Bisa Gagal Bayar

Nurdian Akhmad
20 May 2014 | 07:30
rubrik: Ekonomi
Ilustrasi/Istimewa
Ilustrasi/Istimewa

Jakarta, businessnews.id — Dalam Kajian Stabilitas Keuangan Bank Indonesia No. 22 Bulan Maret 2014, disebutkan bahwa jika dilakukan skenario terburuk dari stress test, akan ada 34 persen utang luar negeri korporasi Indonesia yang mengalami kegagalan bayar.

“Bahwa tingkat kegagalan korporasi kalau terjadi skenario terburuk memang cukup tinggi, 34 persen dari total utang luar negeri swasta” terang Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah, di Jakarta (19 Mei 2014).

Menurut dia, dalam kajian ini Bank Indonesia (BI) menggunakan metode altman Z-score dan mengambil data dari 263 korporasi publik non-keuangan.

Altman Z-score mengukur risiko korporasi ke depan dengan rasio modal kerja terhadap total aset.

Untuk itu, BI akan mengambil langkah agar tingkat utang korporasi bisa dikendalikan. BI akan mengkaji bersama OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan Pemerintah untuk mengambil langkah mengendalikan tingkat utang korporasi. “Jika dipandang perlu,” terang dia.

Ada beberapa langkah yang bisa diambil mengacu pada negara lain seperti Korea: memersilakan berutang namun ketika akan jatuh tempo, diwajibkan memiliki valuta asing yang dibutuhkan untuk membayar utangnya. Atau melakukan praktek lindung nilai.

Dia pun menjelaskan, dalam kajian BI itu, ditunjukkan bahwa bila suku bunga acuan naik hingga 500 basis poin, tidak banyak berdampak pada perbankan nasional.

“Dampak hal itu ke perbankan tidak terlalu besar. Hal itu berlaku jika hanya dinaikkan sekali saja, bukan berulang-ulang.”

Jika BI menaikkan suku bunga acuan, akan berdampak pada CAR (capital adequacy ratio). Dalam stress test itu, penurunan CAR antara 0,1 persen sampai 0,2 persen. “Saat ini kan CAR secara industri 18,3 persen, jika turun 0,1-02 persen masih cukup kuat,“ terang dia.

BACA JUGA:   Utang Luar Negeri Pemerintah-Swasta Tercatat Menurun

Dalam kajian tersebut, BI memberi catatan khusus bagi bank kategori Buku I dan Buku III: berpotensi memiliki dampak risiko suku bunga terhadap permodalan bank relatif lebih besar dibanding bank Buku II dan IV.

Di mana pada simulasi itu, jika suku bunga dinaikkan hingga 500 basis point, CAR bank Buku I akan turun ke angka 17,27 persen; sedangkan CAR awal sebelum simulasi di 19,08 persen. Untuk bank Buku III, CAR akan turun ke angka 14,91 persen dari CAR awal 16,18 persen. (ZIZ)

EDITOR: DHI

Tags: utang luar negeri swasta
Previous Post

Risiko Kredit dan Likuiditas Bank Perlu Dicermati

Next Post

JK Jadi Cawapres Tak Kuatkan Rupiah

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR