Jakarta, BusinessNews Indonesia – Besarnya biaya Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) yang disisihkan oleh pihak Citibank Indonesia membuat bank tersebut mengalami kerugian yang cukup besar selama semester I-2018 ini.
Tercatat, dalam paruh pertama tahun ini perseroan hanya bisa meraup laba bersih sebesar R p835 miliar. Namun angka tersebut masih kalah jauh dari periode yang sama di tahun lalu yang mencapai Rp1,35 triliun. Atau tergerus sebesar Rp 515 miliar.
Menurut Chief Executive Oficer (CEO) Citibank Indonesia Batara Sianturi, angka pencadangan kerugian Citibank itu mencapai Rp545,32 miliar pada Juni 2018 atau meningkat dibandingkan Juni 2017 yang sebesar Rp 207,67 miliar.
“Makanya biaya pencadangan kerugian yang besar itu membuat penurunan laba bersih perseroan. Tahun lalu itu sangat baik labanya. Sekarang karena ada pencadangan di tahun ini menjadi negatif, karena benefitnya berkurang,” keluh Batara di Jakarta, Senin, (13/8/2018).
Sejauh ini, secara umum bank-bank memang masih membentuk biaya pencadangan kerugian di tahun ini sebagai bentuk antisipasi kenaikan daru rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL).
NPL Citibank sendiri hingga akhir Juni 2018 ini, seebsar 2,34 persen (gross) atau meningkat dibandingkan dengan tahun lalu di periode yang sama yakni sebesar 2,26 persen. “Tapi untuk NPL net di akhir Juni 2018 masih rendah di angka 0,92 persen, sekalipun memang masih lebih tinggi dibandingkan Semester I-2017 sebesar 0,78 persen,” tambah dia.
Selain itu, turunnya laba Citibank juga dipengaruhi oleh merosotnya Net Interest Income (NIM) atau marjin bunga bersih dari 6,69% menjadi 5,87% pada semester I 2018.
“Penurunan ini karena, pertama di tahun lalu belum ada interest cap di kartu kredit dan baru impelentasi di semester II ini. Sedang kedua, penambahan cost di interest rate di consumer banking. Jadi dua faktor itu saja,” urai Batara.
Meski demikian, tingkat permodalan Citibank masih terjaga dan jauh di atas ketentuan regulator. Tercatat, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) Citibank sebesar 24,05 persen.
“Citibank Indonesia memiliki neraca yang kokoh dengan tingkat permodalan yang sangat memadai dan likuid. Kami masih dalam posisi yang baik untuk dapat terus mendukung aspirasi pertumbuhan nasabah kami serta memperdalam hubungan jangka panjang dengan mereka,” pungkas dia.
