Jakarta, BusinessNews Indonesia – Kinerja perdagangan Indonesia kembali mengalami defisit hingga US$ 2,03 miliar untuk periode Juli 2018 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
Hal ini terjadi karena laju impor masih tinggi mencapai US$ 18,27 miliar, sementara ekspornya hanya di angka US$ 16,24 miliar.
Namun justru kondisi defisit itu direspons oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebagai kondisi yang anomali. Apalagi dipicu oleh adanya laju impor saat libur panjang itu.
“Statistik yang Juli ini agak anomali. Karena kan ada libur panjang. Jadi ada kegiatan impor terutama, itu banyak yang dilakukan sebelum Lebaran dan libur panjang dan kemudian dikompensasi pada bulan Juli,” keluh Menkeu, kemarin.
Terkait respon Sri Mulyani tersebut, ekonom senior Rizal Ramli menyayangkan sikap sang menteri yang hanya bisa merespon satu kondisi dengan sebutan anomali. Padahal sejatinya bisa diantisipasi.
“Ini lucu setiap ada masalah selalu dilabeli ‘anomali’. Sering banget pakai label ‘anomali’ itu, ketika tidak mampu kurangi efeknya tersebut. Padahal semuanya sudah bisa diperkirakan jauh-jauh hari,” jelas dia di Jakarta, Kamis (16/8/2018).
Ketidakmampuan pemerintah itu, sebut Rizal, jelas sangat memprihatinkan. Karena di balik ketidakmampuan menangani perekonomian itu hanya berdalih kondisi yang anomali.
Sementara di sisi lain, kecam Rizal, Menkeu juga terus menguntungkan pihak asing dengan penerbitan surat utang yang memiliki suku bunga selangit.
Kali ini, kata mantan Menteri Koordinator Kemaritiman ini, pemerintah menetapkan kupon mengambang dengan kupon minimal (floating with floor) untuk jenis surat utang SBR004 sebesar 8,05%.
“Angka tersebut jelas jauh lebih tinggi dibanding SBR003 yang diterbitkan Mei lalu sebesar 6,8%. Kok bisa? Ini karena supaya terus bisa ngutang, makanya diterbitkan surat utang dengan yield semakin tinggi,” kecamnya.
Sikap Menkeu tersebut, kata dia, karena memang sang menteri mantan pejabat tinggi di Bank Dunia dan bersikap neoliberl.
“Ilmu ekonominya dia itu neoliberal. Sebatas hanya doyan naikkan harga dan naikkan utang dengan bunga semakin tinggi,” kritik Rizal.
