Jakarta, BusinessNews Indonesia – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk sudah merampungkan proses akuisisi saham PT Pertagas dengan mengantongi 51 persen saham di anak usaha PT Pertamina (Persero) itu.
Hal itu menyusul selesainya proses holding BUMN migas, dimana PGN saat ini menjadi anak usaha Pertamina dengan kepemilikan 56,97 persen di PGN.
Namun menurut Direktur Utama PGN, Jobi Triananda Hasjim, pihaknya memang sengaja hanya mau mengakuisisi saham Pertagas sebanyak 51 persen saja, tak lebih. Hal ini karena perseroan masih banyak memiliki proyek lain yang diselesaikan.
“Proses akuisisinya sudah ditandatangani pada 29 Juni 2018 lalu. Dan PGN jadi perusahaan pengendali sebanyak 51 persen dengan nilai akuisisi Rp16 triliun. Dan akan dibayar oada akgir September nanti,” ujar dia di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/8/2018).
Untuk proses pelunasannya itu, kata dia, sebanyak 50 persen akan dibayarkan pada akgir September 2018 nanti. Sementara untuk 50 persen lainnya akan dilunasi pada akhir semester 1 2019 nanti.
“Untuk dananya pembayaran tahap satu ini, kami anggarkan dari kas perseroan dan akan dibayarkan di akhir September nanti,” katanya.
Namun untuk sisa dana 50 persen lagi yang akan dilunasi tahun depan, kata dia, pihaknya belum menentukan skema pendanaannya apakah dari perbankan atau pasar modal.
“Kami masih mengkaji alternatif pendanaannya. Skemanya belum bisa dibocorkan terlebih dahulu masih dalam kajian internal,” kata dia.
Lebih jauh dia menegaskan, PGN sendiri hanya tertarik mengambil 51 persen saham Pertagas karena emiten dengan kode saham PGAS itu masih banyak memiliki proyek-proyek lain yang harus diselesaikan. Sehingga tak melulu fokus ke aksi korporasi akuisisi.
“Kenapa PGN hanya ambil 51 persen? Katena kami masih butuh banyak dana untuk pengembangan infrastruktur energi. Kami tak mau (dananya) habis hanya untuk akuisisi Pertagas,” jelas dia.
Salah satunya, sebut dia, untuk pengembangan proyek infrastruktur di wilayah Indonesia timur. Apalagi di Papua juga akan ada Pekan Olahraga Nasional (PON).
“Jadi kami juga butuh dana besar supaya banyak pembangkit di remote area, seperti Papua itu. Dan di sana tak mungkin dipasok oleh batubara tapi gas, makanya lebih mahal,” katanya.
Kinerja perseroan sendiri hingga semester I-2018 masih tumbuh positif. Dari sisi raihan laba meroket 191,8 persen secara year on year (yoy). Yaitu dengan torehan laba menjadi US$ 145,94 juta atau lebih dari Rp2 triliun dari sebelumnya yang hanya US$ 50 juta
