Jakarta, BusinessNews Indonesia – PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) sepanjang semester I-2018, mencatatkan rata-rata produksi minyak dan gas (migas) sebesar 82,4 mboepd.
Dengan begitu, berarti produksi tersebut lebih rendah dibanding semester I-2017 yang sebesar 85 mboepd. Penurunan ini dikarenakan oleh permintaan gas yang memang lebih rendah dari periode sebelumnya.
“Namun begitu, kami justru mempertahankan panduan produksi sepanjang 2018 yang sebesar 85 mboepd itu serta memiliki kapasitas untuk pengiriman hingga 100 mboepd. Itu masih bergantung pada permintaan dan pelanggan gas,” ujat CEO MEDC, Roberto Lorato di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Senin (27/8/2018).
Dia menegaskan, perseroan juga meningkatkan produksi untuk antisipasi permintaan (rump up) penjualan gas Aceh dimulainoada Agustus ini dengan nilai proyek di bawah anggaran.
“Tapi secara keseluruhan, MedcoEnergi menorehkan biaya tunai per unit sebesar US$ 8,5 per boe yang berarti sejalan dengan target dan strategi perseroan,” kata dia.
Lorato menegaskan, kinerja operasional yang kuat dan fokus perseroan pada biaya memungkinkan pihaknya untuk memanfaatkan harga komoditas yang membaik pada saat ini.
“Apalagi dengan selesainya proyek tahap 1 Sarulla Geothermal dan telah beroperasinya secara komersial dan ditambah dengan commissioning-nya Block A Aceh, kami harus memastikan kelancaran operasi kedua proyek tersebut agar terus memberikan hasil yang lebih baik,” jelas dia.
Secara kinerja dia menegaskan, pada semester I-2018 EBITDA perseroan menunjukkan level yang kuat tercatat sebesar US$ 301,3 juta atau 50,4% lebih tinggi dari semester I-2017. Hal ini didorong oleh harga komoditas yang membaik dan volume yang stabil dengan kondolidasi perseroan.
“Juga ditopang oleh harga minyak dan gas yang meningkat 35 persen dan 9 persen menjadi US$ 66,8/bbl dan US$6,0/mmbtu masing-masing dan harga tenaga rata-rata naik 56 persen menjadi 4,19/kwh dan itu tidak termasuk bahan bakar,” tutur dia.
Dengan penurunan permintaan itu, kata dia, membuat laba bersih perseroan di semester I-2018 juga turun 35 persen ke posisi US$ 42,4 juta dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Hal ini juga karena peningkatan kinerja migas namun diikuti oleh pengeluaran dalam afiliasi penambangan AMNT (Amman Nusa Tenggara) yang sedang mempercepat pembangunan fase 7 tambang Batu Hijau,” pungkasnya.
