Jakarta, BusinessNews Indonesia – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) masih terus berada di zona merah. Bahkan hari ini sempat menyentuh level Rp14.750. Angka ini menjadi level terendah sejak krisis 1998 silam.
Terkait kondisi depresiasi rupiah itu, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Inarno Djayadi menyebut, tren perlemahan nilai tukar rupiah ini disebabkan pelemahan di bursa saham maupun pasar obligasi. Justru karena dipengaruhi sentimen negatif dari eksternal.
“Bisa dilihat bahwa pelemahan rupiah bukan dari pasar saham dan obligasi atau bukan dari pasar modal, tetapi itu lebih ke arah faktor eksternal,” kata Inarno di Gedung BEI Jakarta, Jumat (31/8/2018).
Inarno menyebutkan, sejak dua hari terakhir pergerakan rupiah terhadap dolar AS berada dalam pola penurunan. Mengutip Bloomberg, kemarin ditutup pada level Ro14.680 dan dibuka tadi pagi di posisi Rp14.710.
Berdasarkan Kurs Tengah Bank Indonesia, siang ini rupiah semoat berada di level Rp14.711 per dolar AS.
Inarno menyatakan, sejauh ini gejolak ekonomi eksternal lebih banyak dipengaruhi oleh ketidakpastian perekonomian di luar negeri, seperti Turki dan Argentina.
“Mata uang Argentina turun sampai 7 persen dalam satu hari dan lira Turki turunnya luar biasa,” imbuh Inarno.
Lebih lanjut dia mengatakan, kalau dari pasar modal masih ada sentimen positif, tercermin dari berlanjutnya capital inflow (dana asing yang masuk) sejak pekan kemarin.
“Sebetulnya kalau dari sisi saham dan obligasi, inflow masih ada ya. Masih hijau kok (menguat),” tegasnya.
Sebelumnya, pelemahan rupiah kemarin para analis menyebut karena pasar merespon rilis kenaikan pertumbuhan ekonomi AS. Termasuk juga kembali meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar jelang kesepakatan dagang antara AS-Kanada yang turut menaikkan permintaan aset-aset safe haven, terutama USD.
Di sisi lain, pelaku pasar juga khawatir masih berlanjutnya potensi perang dagang terutama setelah AS kembali akan kenakan tarif tambahan atas impor sejumlah barang dari Tiongkok senilai US$ 20 miliar.
Sedang dari dalam negeri, hasil Rapat Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menyebut, stabilitas jasa keuangan dan likuiditas pasar keuangan Indonesia masih terjaga dengan baik tampaknya kurang direspon pasar.
