TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Nilai Tukar Petani Agustus 2018 Naik Tipis

Busthomi
3 September 2018 | 14:39
rubrik: Ekonomi
Infrastruktur Terpadu di Kawasan Tambak Indramayu

Sumber Foto: BeritaDaerah

Jakarta, BusinessNews Indonesia – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan laju Nilai Tukar Petani (NTP) ke posisi 102,56 poin selama Agustus 2018. Dengan posisi itu, berarti pemerintah hanya bisa menggenjot 0,89 persen tingkat daya beli petani ketimbang bulan sebelunya.

Menurut Kepala BPS, Suhariyanto kenaikan NTP tersebut dikarenakan indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 0,75 persen. “Sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) turun sebesar 0,14 persen,” ungkap dia di Kantor BPS, Jakarta, Senin (3/9/2018).

NTP merupakan perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib). NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Sehingga semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.

“Jadi NTP tersebut merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. Dan NTP Agustus naik 0,89 persen dibanding NTP bulan sebelumnya,” jelas dia.

Sepanjang Agustus 2018 itu, kata dia, NTP Provinsi Jawa Timur mengalami kenaikan tertinggi (2,40 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Riau mengalami penurunan terbesar (1,25 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya.

Sementara itu, dia menambahkan, untuk Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) secara nasional di Agustus 2018 juga naik 0,48 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya menjadi sebesar 112,08.

Lebih jauh dia menegaskan, dengan kondisi NTP dan NTUP tersebut, tercatat di bulan lalu terjadi deflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,32 persen. Kondisi itu disebabkan oleh penurunan indeks kelompok bahan makanan yang cukup besar, sementara indeks kelompok penyusun Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) lainnya naik.

BACA JUGA:   459 Ribu Kendaraan Lalui JTTS Saat Libur Panjang Hari Pancasila 2025

“Selain NTP dan NTUP, BPS juga mencatat untuk harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani juga naik 3,05 persen, sedang harga beras medium di penggilingan turun 0,28 persen,” ujar Kecuk, panggilan akrabnya.

Previous Post

Ramayana Sisihkan Rp 1 Miliar untuk CSR

Next Post

JSMR Lepas Semua Saham di Jakarta Lingkar Baratsatu

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR