TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Rupiah Nyaris 15.000, Pengamat: Data Diklaim Bagus Kok Jeblok, Ironis

Busthomi
5 September 2018 | 15:05
rubrik: Ekonomi
Syarat Ekonomi Lebihi 6% versi Rizal Ramli

Ilustrasi: Istimewa

Jakarta, BusinessNews Indonesia – Laju nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang hampir menyentuh batas Rp15.000 atau angka terendah sejak krisis moneter 1998 silam menjadi sinyal buruk bagi perekonomian nasional.

Kondisi itu tentu sangat berlawanan jika melihat beberapa hal yang selama ini digembar-gembarkan pemerintah sebagai indikator positif. Salah satunya rating utang pemerintah yang terus membaik.

“Tapi faktanya malah rupiah kita jeblok. Padahal selama ini semua pemeringkat kredit mningkatkan credit rating Indonesia. Terus Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga sebagai menkeu terbaik, tapi kenapa kondisinya malah seperti ini (rupiah jeblok),” papar ekonom senior Ichsanuddin Noorsy, di Jakarta, Rabu (5/9/2018).

Selain itu, kata dia, pemerintah juga kerap koar-koar bahwa posisi utang pemerintah saat ini dinilai masih dalam posisi aman. Kemudian Indonesia akan menjadi emoat besar dunia pada 2050 nanti.

“Termasuk juga pemerintah kerap membanggakan daya saing yang terus menguat dan kita semua tak perlu takut menghadapi perdagangan dan pasar bebas yang terjadi saat ini. Tapi anomalinya malah rupiah jeblok,” sindir dia.

Noorsy sendiri membandingkan antara kondisi saat ini yang tengah di ujung krisis dengan kondisi jelang krismon 1998 silam.

Saat ini, kata dia, penyebab kerapuhan rupiah karena memang selain adanya perang dagang juga posisi utang luar negeri (ULN) yang naik tajam.

“Sementara saat krismon dulu sekalipun ada ULN, juga dipicu oleh perbankan nasional yang bangkrut (insolvent). Tapi tetap pemerintah tak bisa tinggal diam dengan kondisi perekonomian saat ini,” ujar dia.

Laju rupiah kemarin bergerak sangat bergejolak. Mengutip Bloomberg, posisi rupiah ditutup di level 14.935. Saat ini masih berada di posisi 14.933. Kondisi tersebut semakin diperparah lagi dengan laju Indeks Harga Sahan Gabungan (IHSG) yang hari ini turun drastis melebihi 4 ,7 persen ke posisi 5.628.

BACA JUGA:   Berikut, 3 Tantangan Stabilitas Sektor Keuangan

Khawatir Krisis Moneter 1998 Terulang, Ini Data Perbandingannya

A post shared by businessnews.id (@businessnewsid) on Sep 4, 2018 at 11:21pm PDT

Previous Post

Yayasan Pendidikan Astra Bina Sekolah di KupangĀ 

Next Post

Rupiah dan IHSG Keok, OJK Intensifkan Pengawasan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR