
Jakarta, businessnews.id — Menteri Keuangan RI Chatib Basri memerkirakan, defisit neraca perdagangan sebesar USD 1,96 miliar yang terjadi pada April 2014 akan berlanjut hingga Juni tahun ini.
Menurut dia di Jakarta (3/6/2014), neraca perdagangan kembali mengalami defisit bersifat temporer dan diperkirakan mengalami surplus pada Juli 2014. Dia meyakini, ekspor akan mengalami peningkatan pada bulan depan yang dibarengi perlambatan impor.
“Saya sudah bilang (defisit perdagangan) ini temporer. Mei dan Juni 2014 masih akan naik, masih bisa ada potensi defisit. Tetapi current account deficit tidak akan lebih buruk dibandingkan dengan tahun lalu yang 4,4 persen dari GDP.”
Meski neraca perdagangan berpotensi defisit, nilai impor pada Mei 2014 akan lebih rendah dari realisasi impor sebulan sebelumnya yang mencapai USD 16,26 miliar. “Kepala Badan Pusat Statistik (Suryamin) juga bilang kalau impor ini bersifat musiman,” imbuh Menteri Chatib Basri.
Ia menambahkan, pemerintah meyakini nilai ekspor pada bulan-bulan berikutnya akan terus membaik dibandingkan dengan realisasi April 2014 yang mencapai USD 14,29 miliar. “Jadi, defisit perdagangan bisa mungkin terjadi, tetapi angkanya tidak akan lebih buruk dari yang kemarin (April 2014),” ujarnya.
Menteri Chatib Basri pun berkata, Pemerintah akan meningkatkan koordinasi dengan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Sinergi ini diharapkan bisa mengarahkan kurs Rupiah di 2015 menuju kisaran Rp 11.500 sampai Rp12.000 per USD.
“Dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, Pemerintah terus berupaya meningkatkan koordinasi dan sinergi kebijakan dengan Bank Indonesia sebagai langkah antisipasi,” dia berkata.
Masih menurut dia, pemerintah sependapat dengan DPR bahwa volatilitas Rupiah perlu dijaga ke level yang stabil, karena perannya sebagai penjaga daya saing dan stabilitas perekonomian nasional.
Penguatan kebijakan mikroprudensial maupun makroprudensial terhadap arus modal asing juga diarahkan untuk mengurangi risiko pembalikan modal asing, dan menjaga agar pergerakan Rupiah tetap sejalan dengan mata uang di Asia.
Dia pun mengatakan, sinergi dan harmonisasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil, diharapkan bisa menciptakan iklim kondusif untuk mencegah dan mengantisipasi krisis di sektor keuangan.
Selain itu, ujar dia, harmonisasi kebijakan tersebut juga diharapkan mampu mengendalikan inflasi dan menjaga pasar obligasi. “Upaya pendalaman pasar keuangan serta penguatan akses ke sektor keuangan terus dilaksanakan guna memerkuat basis perekonomian dan mendorong peningkatan alternatif sumber pembiayaan,” paparnya.
Dalam laporannya, Kementerian Keuangan menyebutkan, pergerakan Rupiah selalu dipengaruhi kebijakan The Federal Reserve (Bank Sentral Amerika Serikat), kekhawatiran investor terhadap perekonomian negara berkembang, gejolak harga minyak dunia, dan defisit neraca perdagangan Indonesia yang masih akan berlanjut. (Abdul Aziz)
Editor: Achmad Adhito