Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan akhir pekan ini diproyeksi memang masih akan terdepresiasi. Meskipun di sesi pembukaan terlihat mata uang NKRI itu menguat.
Di sesi perdagangan pagi, mengutip Bloomberg, rupiah dibuka di level 15.218 angka tersebut berarti rupiah menguat sebanyak 17 poin dari penutupan kemarin di posisi 15.235. Dalam 15 menit pertama, rupiah kian kuat bertengger di posisi 15.187 atau terapresiasi 0,31 persen.
Menurut analis pasar uang dari Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), Reza Priyambada, laju akan sangat bergantung pada imbali hasil obligasi AS yang masih melemah.
“Pergerakan USD yang mulai berbalik melemah ini ternyata diikuti dengan penurunan imbal hasil obligasi AS. Sehingga kondisi ini diharapkan dapat mengurangi tekanan pada Rupiah,” tegas Reza dalam daily report-nya, Jumat (12/10/2018).
Di perdagangan sebelumnya, kata dia, masih adanya penilaian negatif terhadap kondisi ekonomi internal Indonesia memang yang membuat laju Rupiah sulit untuk bertahan di zona positif.
“Akibatnya pergerakan Rupiah kembali mengalami pelemahan. Apakagi juga masih adanya kekhawatiran terhadap potensi kenaikan suku bunga The Fed memberikan imbas negatif bagi rupiah,” jelas Reza.
Dengam kondisi tersebut, dia memperkirakan laju Rupiah akan bergerak di kisaran 15.238-15.220. Diharapkan pelemahan rupiah dapat lebih terbatas untuk mengurangi potensi pelemahan lebih lanjut.
“Tetap mencermati dan mewaspadai berbagai sentimen yang dapat membuat Rupiah kembali melemah,” ujar dia.
Penulis: Tomy
