Jakarta, TopBusiness—PT Jasa Raharja (Persero) mengaku terus melakukan investasi secara prudent (hati-hati) untuk dana kelolaan dari iuran wajib pemilik kendaraan bermotor.
Pihaknya pun banyak menempatkan dananya di portofolio investasi di pasar modal, di perbankan, dan juga Surat Berharga Negara (SBN).
“Namun kita tetap lakukan secara prudent sesuai dengan arahan Kementerian BUMN dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan),” ungkap Direktur Utama Jasa Raharja, Budi Rahardjo Slamet, di Jakarta, Rabu (17/10/2018).
Meski proses investasi tersebut dilakukan secara prudent, kata dia, pihaknya tetap mengakui ada imbal hasil yang menurun seiring adanya pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi saat ini. Sehingga target investasi pun tak tercapai target.
“Investasi ini perlu karena untuk biayai lain-lain dan operasional. Tahun ini kondisi investasi yang ada tetap dilakukan sangat prudent. Tapi IHSG kan turun dan itu berpengaruh. Maka itu [target investasi] bisa tak capai target,” tegas Budi.
Dia menyebut, porsi paling banyak ada di deposito dan instrumen pasar modal, meski enggan menyebut persentasenya. Sedang untuk SBN, pihaknya akan mengejar untuk menginvestasikan sebanyak 20 persen.
Budi juga optimis pendapatan perseroan bisa terus bertumbuh dari jumlah iuran wajib yang meningkat. Meskipun, beban santunan terus melonjak seiring aturan baru yang mewajibkan naik 100 persen.
“Kenaikan santunan 100 persen itu jelas akan memengaruhi laba. Tahun lalu laba kami mencapai Rp2,4 triliun. Tapi tahun ini kami hanya targetkan laba sebesar Rp1,6 triliun. Sehingga ada penurunan sekitar Rp800 miliar,” kata dia.
Saat ini, dia menambahkan, jumlah kendaraan maupun pengguna moda transportasi akan terus meningkat hingga 7,5% di 2018 ini. Sehingga akan menambah jumlah penerimaan iuran.
“Setiap tahun sebanyak 34 ribu sepeda motor yang bayar iuran wajib. Termasuk warga asing juga bayar. Untuk mobil sebanyak 143 ribu,” ucap dia.
Sampai Mei 2018, total iuran wajib mencapai Rp 1,83 triliun. Sementara hingga akhir tahun diproyeksi naik sebesar 7,5 persen dibanding realisasi tahun 2017 yang mencapai Rp 5,5 triliun.
Sementara santunan hingga September 2018 melonjak 40,97 persen menjadi Rp1,85 triliun dari sebelumnya Rp1,31 triliun di periode yang sama tahun lalu.
Penulis: Tomy
