Siapa itu milenial? Milenial atau sering juga disebut Gen Y adalah generasi yang lahir antara tahun 1980 sampai dengan tahun 2000. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 56,37% dari komposisi sumber daya manusia di Indonesia adalah kaum milenial. Ciri khas generasi milenial antara lain sangat dekat dengan teknologi, gaya hidup serba instan, kritis, eksis, dan konsumtif.
Oleh: Rindhi Widyastuti
Salah satu ciri milenial yang paling menonjol adalah sifat konsumtif. Transformasi dan perkembangan teknologi yang pesat telah membawa perubahan pada sistem kerja dan pola hidup generasi saat ini, termasuk membawa mereka ke dalam kebiasaan konsumtif. Belanja melalui aplikasi sudah menjadi hal biasa. Begitu pula nongkrong di kafe, ngopi, nge-mall, dan travelling hanya untuk gaya-gayaan dan ajang bergaul untuk menyesuaikan dan menyetarakan diri dengan inner circle-nya. Dilema timbul di kalangan milenial, pengakuan diri atau “hidup normal” dan tak terlihat. Bahkan belakangan muncul istilah social climber untuk menyebut mereka yang relah melakukan segala cara untuk diterima oleh lingkungan yang status sosialnya lebih tinggi.
Tak heran jika saat ini banyak anak muda yang terlihat menarik dan bergaya hidup “wah” di sosial media, namun pada kenyataannya mereka tidak memiliki prestasi dan aset yang dibanggakan. Bukan tidak mungkin sebagian besar milenial saat ini setiap bulannya mengeluarkan sebagian besar gajinya untuk sekedar gaya hidup, baru kemudian sisanya digunakan untuk menabung. Menabung pun tidak bertahan lama karena sering ditarik melalui atm untuk membeli barang-barang bermerk atau travelling ke luar negeri. Jika pendapatan setiap buan digunakan tanpa perencanaan, maka permasalahan yang timbul kemudian adalah kesulitan menabung dan tidak ada persiapan untuk masa depan. Sebenarnya eksis tidak dilarang, namun jika dilakukan dengan cara berlebihan dan tidak memperhatikan kondisi finansial tentunya akan berdampak kurang baik untuk kehidupan mendatang.
Tips Mengatur Keuangan untuk Milenial
Sebagai generasi muda yang produktif, akan lebih baik apabila milenial dapat mengatur kebutuhan dan keinginan dengan lebih bijaksana. Ngopi, nge-mall, travelling, dan belanja online memang asyik, namun lebih hebat apabila kita dapat mengatur pengeluaran dengan lebih hati-hati. Bukankah lebih keren jika beberapa tahun ke depan kita sudah memiliki tabungan atau bahkan aset yang dapat diandalkan. Bukan tidak mungkin kita tetap dapat menikmati kopi, mengunjungi mall, jalan-jalan, dan bahkan memiliki kehidupan yang lebih baik dari sekedar potret di sosial media. Kuncinya adalah pengaturan keuangan yang baik dan matang. Hidup di era serba mudah dan tingkat kompetisi yang tinggi, milenial tentu dapat mengatur keuangannya sesuai gaya dan kebutuhan masing-masing. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai langkah awal yang dapat dilakukan untuk mengatur keuangan.
Pertama, menganalisis kondisi keuangan yang dihadapi saat ini, apakah penerimaan dan pengeluaran kita dalam posisi normal (pemasukan lebih tinggi dari pengeluaran). Hal ini dapat dilakukan dengan pencatatan pemasukan dan pengeluaran bulanan sedetail mungkin, termasuk biaya-biaya kecil yang tak terlihat tapi sebenarnya cukup membuat dompet menipis, seperti biaya tol, parkir mall, dan potongan penarikan atm. Pencatatan tersebut akan membantu untuk memotret bagaimana kondisi keuangan sebenarnya dan mengidentifikasi pengeluaran-pengeluaran yang kurang bermanfaat.
Kedua, mengetahui tujuan hidup atau hal yang ingin diraih dalam jangka waktu pendek dan jangka waktu panjang. Untuk apa sebenarnya gaji yang kita terima. Setiap anak muda tentu memiliki pemikiran dan prioritas kebutuhan yang berbeda. Misalnya untuk seseorang yang berusia 20 tahun, single, dan lima tahun lagi berencana melanjutkan studi S2, maka ia perlu menyiapkan biaya pendidikannya tersebut. Untuk seseorang yang memiliki target untuk menikah di usia tertentu, maka selain mengalokasikan gajinya untuk tabungan pernikahan, ia juga harus menabung untuk membeli rumah. Prioritas tersebut sebaiknya disusun dengan serius dan dilaksanakan dengan disiplin agar target dapat terpenuhi.
Alokasikan Pendapatanmu dengan Benar
Dilansir dari laman situs salah satu financial planner, Jouska, pada umumnya gaji atau pendapatan perlu dialokasikan untuk beberapa pos, antara lain pengeluaran rutin, tabungan, dana darurat, dan investasi. Pengeluaran rutin merupakan penggunaan dana untuk kebutuhan tetap, misalnya zakat, biaya belanja atau makan bulanan, membeli pulsa, tagihan listrik, dan biaya transportasi.
Pengeluaran lain yang tidak rutin misalnya membeli baju, sepatu, dan tas dialokasikan ke dalam pengeluaran lain. Akan lebih baik apabila pengeluaran lain dananya diperoleh dari dana pengeluaran rutin yang disisihkan. Misalnya pengeluaran rutin setiap bulan dianggarkan sebesar Rp 2juta, jika riilnya pengeluaran kurang dari nominal tersebut maka sisa dananya dapat dialokasikan untuk pengeluaran lain. Lalu bagaimana dengan kebutuhan seperti nonton atau nongkrong di kafe instagramable? Biaya tersebut bisa saja dimasukkan ke dalam biaya rutin, namun perlu diingat bahwa frekuensinya perlu dibatasi kalau tak ingin dompet menipis.
Tabungan adalah bagian dari pendapatan yang disimpan untuk kebutuhan di masa depan. Agar lebih mudah, tabungan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tabungan murni dan tabungan kebutuhan. Tabungan murni adalah tabungan yang digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan dalam jangka panjang dan dapat digunakan untuk pembelian aset atau investasi sehingga nilainya dapat terus meningkat. Tabungan murni ini penting dan sifatnya wajib, karena tabungan ini berfungsi untuk memperbaiki perekonomian pribadi di masa depan.
Dengan kemajuan teknologi yang pesat, tentu milenial harus mempersiapkan diri baik secara fisik maupun finansial untuk menghadapi kondisi ekonomi yang akan datang. Di masa mendatang, bisa saja tabungan ini digunakan untuk membuka usaha warung kopi atau toko di mall. Sedangkan tabungan kebutuhan adalah tabungan yang ditujukan untuk keperluan dalam jangka pendek, misalnya tabungan liburan, tabungan haji, dan tabungan pernikahan. Untuk tabungan kebutuhan sifatnya tidak wajib, namun perlu diperhitungkan untuk mempersiapkan pengeluaran selain pengeluaran rutin yang nominalnya tidak sedikit, misalnya menabung untuk liburan atau down payment mobil.
Selain pengeluaran dan tabungan, terdapat dana darurat yang digunakan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak terduga seperti bencana alam atau biaya rumah sakit saat orang tua sakit. Seorang beauty blogger, Alodita, membagikan ilmu finansial di situs blognya, bahwa dana darurat idealnya sebesar tiga kali pendapatan untuk seseorang yang single. Sedangkan mereka yang sudah menikah idealnya sebesar enam kali pendapatan. Dari mana lokasi dana darurat ini? Tentunya berasal dari pendapatan yang disisihkan dan besaran nominal setiap bulannya harus ditentukan dan dilaksanakan dengan komitmen dan disiplin.
Selain itu, untuk milenial yang bekerja di perusahaan swasta, salah satu hal yang layak dipertimbangkan adalah kondisi ketika ia tidak memiliki pekerjaan lagi, baik karena resign, pemutusan hubungan kerja (PHK), maupun pensiun. Dana dapat digunakan dalam masa pasca mengundurkan diri dan sedang menunggu panggilan kerja. Bukan berarti mereka yang bekerja di instansi pemerintahan tidak perlu mempersiapkan dana pensiun. Mereka pun sebaiknya menyiapkan dana sesuai dengan apa yang telah direncanakan setelah pensiun. Dana ini akan bermanfaat sebagai modal usaha atau untuk menghidupi diri secara mandiri agar orang-orang di sekitar kita tidak terbebani secara finansial.
Secara keseluruhan, persentase alokasi pendapatan dapat ditentukan masing-masing sesuai kebutuhan dan prioritas. Jika dihitung-hitung memang terlihat sangat besar dan berat. Namun dengan bermodal niat dan disiplin serta memikirkan manfaat ke depan, seharusnya semua dapat dimulai dan dilakukan dengan baik. Tidak ada salahnya kita mengatur keuangan sejak pertama kali menerima gaji. Mantapkan hati pada pola keuangan yang telah direncanakan. Motivasi diri dengan membayangkan kondisi dan kebutuhan di masa yang akan datang. Percayalah, milenial tetap bisa eksis dan isi atm tetap terjamin. Manfaatnya tentu akan kita rasakan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelahnya berupa pundi-pundi hasil keringat yang tersimpan aman untuk kehidupan kita sendiri.
Jadi dilemma apa lagi kalian, milenial?
