Jakarta, TopBusiness – Pemerintah pusat terus memperbaiki kinerja keuangan negara, sebagai dampak defisit transaksi berjalan yang melemah.
Untuk itu, sejumlah BUMN di dorong guna meningkatkan kinerja operasional sehingga pendapatan melonjak dan berimbas pada keuangan pemerintah.
Hal itu cukup beralasan, sebab defisit transaksi berjalan dipicu penguatan impor, sementara ekspor masih belum bergerak banyak.
Sehubungan dengan hal itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, bertempat di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta (10/12/2018) berharap pembangunan kilang oleh PT Pertamina (Persero) bisa mengatasi masalah ekonomi Indonesia yang dihadapi puluhan tahun, yakni defisit transaksi berjalan.
Lebih lanjut, dia mengakui setidaknya ada 3 kelompok industri besar yang belum dikuasai Indonesia. Mereka adalah besi baja, petrokimia, dan kimia dasar, termasuk di dalamnya, farmasi. Akibatnya, kebutuhan impor melonjak.
“Ada 3 kelompok besar industri yang kita belum banyak, sehingga setiap kali pertumbuhan ekonomi terjadi impornya naik dengan cepat. Seperti sekarang ini berapa persen, 22%, sekarang ekspor 8-9%. Kenapa impor tinggi kenaikannya karena tidak menghasilkan 3 kelompok industri besar,” kata Darmin.
Dengan adanya kilang terutama yang terintegrasi dengan petrokimia, mantan gubernur BI ini berharap bisa mengatasi masalah defisit transaksi berjalan.
“Mudah-mudahan tidak kemudian masih mengimpor, sehingga kita mengalami masalah yang sudah berlangsung puluhan tahun yaitu transaksi berjalan defisit, kalau pertumbuhan ekonomi berlangsung berkesinambungan,” paparnya.
Bahkan dia sangat mengapresiasi kerja sama dua kilang tersebut. Sebelumnya, Pertamina memulai dua proyek besar, yakni (refinery development master plan/RDMP) Kilang Balikpapan dan grass root refinery (GRR) Bontang.
Hal tersebut ditandai penandatangan kontrak engineering, procurement dan construction (EPC) Kilang Balikpapan dan penandatangan framework agreement grass root refinery (GRR) Bontang.
Penulis: Agus
