Para pelaku industri otomotif dalam lima tahun ini mengaku lega dan bersyukur karena di tengah tekanan ekonomi domestik dan global, penjualan mereka masih positif. Ada kenaikan penjualan mobil berkisar 5-6% per tahun selama lima tahun ini.
“Dari segala sisi, baik penjualan domestik maupun ekspor dalam lima tahun ini masih positif. Memang tidak besar, tapi so far anggota masih happy bisa bertahan,” kata Jongkie D Sugiharto, ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) kepada TopBusiness di Jakarta, pertengahan November lalu.
Kinerja penjualan mobil ini relatif stagnan bila dibandingkan masa pemerintahan sebelumnya (Presiden SBY) yang juga di kisaran 1-1,2 juta unit per tahun. Jongkie tidak menyalahkan Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla atas stagnasi penjualan mobil selama ini.
Ia justru bersyukur karena langkah Jokowi menggencarkan pembangunan infrastruktur telah menopang penurunan yang terjadi pada penjualan beberapa jenis kendaraan.
“Terjadi shifting penjualan kendaraan di Tanah Air dalam beberapa tahun ini. Penjualan truk dengan kapasitas 20 ton ke atas melonjak sampai 40%, sementara penjualan jenis sedan menurun dan untuk jenis MPV (multi purpose vehicle) stagnan, dan LCGC (low cost green car) turun 2-3%,” ujar Jongkie.
Dari data tersebut menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur di era Pemerintahan Jokowi ini baik jalan tol, bandara, pelabuhan dan lainnya menggenjot permintaan kendaraan berat jenis truk. “Di sisi lain, harga komoditas terutama batubara, kelapa sawit, nikel sekarang juga sudah membaik,” ucapnya.
Perkembangan positif ini yang membuat pelaku industri optimistis penjualan kendaraan roda empat tahun ini bisa mencapai target 1,1 juta unit. Sampai Oktober 2018 lalu, penjualan mobil sudah mencapai 962 unit. “Kami optimis target itu bisa tercapai, kan masih ada sekitar dua bulan lagi,” kata dia.
Untuk mendongkrak penjualan mobil, Jongkie mengharapkan agar pembangunan infrastruktur bisa berkelanjutan. Tidak hanya pada periode pemerintahan Jokowi saat ini, tapi juga pemerintah periode selajutnya. “Kami juga mengusulkan adanya harmonisasi tarif pajak kendaraan,” tuturnya
Saat ini, kendaraan jenis sedan dikenaikan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM)
sebesar 30%-125%, sedangkan untuk kendaraan jenis MPV hanya 10% dan untuk LCGC
bebas pajak. Gaikindo minta pemerintah
untuk memangkas tarif pajak penjualan barang mewah (PPnBM) sedan
sehingga membuat harga
jual kendaraan jenis ini lebih terjangkau. “Paling tidak
pajaknya disamakan dengan MPV,” kata dia.
Menurut Jongkie, penurunan tarif
PPnBM sedan akan membuat industri otomotif semakin bergairah masuk ke pasar
jenis ini. Para agen
pemegang merk (APM) akan mulai berpikir untuk memproduksi sedan secara lokal di
Tanah Air dalam jumlah yang masif.
“Hal ini akan menambah investasi dan juga lapangan kerja. Setelah itu,
baru mereka akan memikirkan ekspor (sedan). Jadi, tujuan awal dari penurunan
tarif pajak ini masih untuk meningkatkan volume penjualan domestik,” tutur
dia.
Terlebih, kata Jongkie, pasar otomotif dunia terbesar sebenarnya adalah untuk jenis kendaraan sedan, bukan MPV. Kendaraan jenis MPV ini hanya diminati negara-negara berkembang. Sedangkan negara-negara maju ceruk pasar yang besar adalah jenis sedan. “Indonesia selama ini ekspor kendaraan jenis MPV, padahal potensi pasarnya jauh lebih besar jenis sedan,” ujarnya.
Penjualan Mobil dan Sepeda Motor
Tahun 2014-2018
| Tahun | 2014 | 2015 | 2016 | 2017 | 2018* |
| Mobil | 1,2 juta | 1,01 juta | 1,06 juta | 1,079 juta | 1,1 juta |
| Motor | 7,86 juta | 6,7 juta | 6,21 juta | 5,88 juta | 6,3 juta |
Sumber: Data Gaikindo dan AISI
*) Angka proyeksi
Motor Mulai Ngebut
Lantas bagaimana dengan kinerja penjualan kendaraan roda dua alias sepeda motor? Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penjualan motor dalam lima tahun ini menunjukkan tren menurun. Pada 2014, penjualan motor anggota AISI mencapai 7,86 juta unit, kemudian merosot di tahun-tahun berikutnya. (lihat tabel )
Penjualan motor menorehkan rekor tertinggi pada 2011 sebanyak 8,01 juta unit. Tren penurunan penjualan motor ini terjadi seiring melambatnya laju ekonomi Indonesia dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2010 mencapai 6,81%, selanjutnya melambat hingga mencapai 4,79% pada 2015 dan membaik jadi 5,07% pada tahun 2017 lalu.
Dengan membaiknya ekonomi domestik dan daya beli masyarakat, Ketua Umum AISI Johannes Loman optimistis target penjualan sepeda motor yang dipatok agen pemegang merek sebanyak 6,3 juta unit tahun 2018 ini bisa tercapai. Kenaikan penjualan itu juga didorong oleh membaiknya harga komoditas di luar Jawa yang membuat konsumsi kendaraan meningkat.
“Model-model baru dari tiap Agen Pemegang Merk (APM) juga memicu kenaikan penjualan. Kami optimis pasar nasional tahun ini akan melebihi tahun lalu,” kata Johannes kepada media, belum lama ini.
Meski demikian, pelaku industri masih mencermati pengaruh melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS terhadap sektor ekonomi yang lain. Saat ini, anggota AISI belum menaikkan harga jual sepeda motor.
“Kami masih memantau sampai akhir tahun kondisi nilai tukarnya. Tahun depan kemungkinan baru ada perubahan harga,” kata Ketua Bidang Komersial AISI Sigit Kumala.
