TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Kebijakan Fiskal di 2019 Dinilai Masih Prudent

Busthomi
12 December 2018 | 17:48
rubrik: Ekonomi
IMF: Asean Berketahanan Ekonomi Bagus

Ilustrasi optimisme pertumbuhan ekonomi meningkat. FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness – Ekonom senior yang juga saat ini menjabat Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Destry Damayanti menyebut di 2019 nanti memang defisit neraca berjalan atau current account defisit (CAD) masih menjadi momok bagi para investor yang mau berinvestasi di Indonesia.

Meski begitu, kata dia, kebijakan fiskal pemerintah saat ini dan tahun depan masih dalam taraf yang prudent atau penuh kehati-hatian. Sehingga tren CAD sendiri masih dalam tren perbaikan.

“Kondisi ekonomi makro di 2019 nanti masih bagus, meski tantangannya ada di CAD. Indikatornya terlihat dari pengelolaan fiskal yang masih prudent,” tandas Destry dalam diskusi Evaluasi Ekonomi 2018 dan Outlook 2019 yang digelar KAHMI di kantornya, Jakarta, Rabu (12/12/2018).

Menurutnya, sejak awal pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla sampai tahun depan masih tetap prudent. Jika kebijakan pemerintah seperti diamati para investor, maka mereka akan merasa tenang.

Sekalipun di pasar modal dan modal itu kerap terjadi gonjang-ganjing atau fluktuasi itu hanya sifatnya jangka pendek.

“Akan tetapi fluktuasi tersebut lama atau sesaat? Kalau lama makan wajar investor lihat fundamental ekonomi kita tak bagus. Tapi yang terjadi kan sesaat,” jelas.

Karena kejadian fluktuasi pasar yang sesaat itu, kata dia, lebih dipicu oleh sentimen global, bukan sentimen dari domestik. Dan sentimen global ini, terutama terkait kebijakan di Amerika Serikat dan China masih belum akan mereda.

“Kemarin (Donald) Trump mau gencatan senjata dengan China. Dan impact-nya semua currency positif. Termasuk rupiah. Padahal di dalam negeri tak ada (sentimen) apa-apa,” jelasnya.

Kondisi seperti itu juga, kata Destry, nyaris sama ketika rupiah terdepresiasi hingga Rp15 ribu. “Waktu itu di dalam negeri tak ada apa-apa (sentimen negatif). Itu lebih karena kebijakan Trump. Akhirnya rupiah ikut terkoreksi,” katanya.

BACA JUGA:   Menteri Perdagangan: RI Kekuatan Ekonomi Diperhitungkan

Menurut dia, yang namanya nilai tukar, pasar saham atau pun pasar obligasi jika terjadi fluktuasi itu biasa.

“Tapi kita lihat tak sedirian. Dan sampai 30 November lalu justru pasar kita jauh lebih baik dari sisi nilai tukar, pasar saham dan obligasi dibanding negara emerging market lainnya. Makanya di 2019 nanti saya optimis akan lebih baik, karena fundamental kita kuat,” papar dia.

Penulis: Tomy

Tags: ekonomifiskal
Previous Post

Bank Sinarmas Targetkan Penerbitan 30 Ribu Kartu Kredit Orami

Next Post

Menguat, Saatnya Rupiah Kembali ke Teritori Positif

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR