Jakarta, TopBusiness – Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini sebesar 5,2 persen. Sementara selama lima kuartal terakhir (sejak kuartal III-2017), laporan Bank Dunia menyebut ekonomi Indonesia bertumbuh yang dipicu oleh menggeliatnya sektor pertambangan dan infrastruktur.
“Faktor pendorongnya antara lain pulihnya investasi di sektor swasta yang membentuk peningkatan modal tetap bruto,” ujar Frederico Gil Sander, Ekonom Utama Bank Dunia untuk Indonesia, Kamis (13/12/2018).
Sedangkan konsumsi swasta sedikit menurun, namun diimbangi dengan lonjakan konsumsi pemerintah yang tetap menjaga pertumbuhan konsumsi secara total. Namun, pembangunan infrastruktur yang tinggi menyebabkan pertumbuhan nilai impor juga tinggi. Meskipun ekspor meningkat namun karena pertumbuhan impor lebih tinggi menyebabkan pertumbuhan ekonomi terhambat.
Di sisi produksi, pertumbuhan meningkat di sebagian besar sektor kecuali untuk sektor pertanian dan utilitas. Akibatnya pertumbuhan nilai tambah bruto sedikit meningkat menjadi 5,1 persen secara tahunan, dari kuartal II-2018 yang hanya 5 persen.
Selain itu, defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) juga terus melebar. Tercatat defisit transaksi berjalan mencapai US$ 8,85 miliar atau setara 3,37 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Hal ini disebabkan harga minyak mentah yang tinggi hingga Oktober 2018, dan pertumbuhan proyek infrastruktur yang terus meningkat plus nilai rupiah yang terdepresiasi. Sisi lain, investasi asing langsung hanya mencapai US$ 3,3 miliar atau nilainya lebih kecil timbang CAD.
“Sejak Januari hingga Oktober 2018 rupiah terdepresiasi sekitar 12 persen, sehingga yang menjadi perhatian adalah CAD,” ungkap
Menurutnya, arus masuk dana asing ke obligasi berada pada tingkat terendah pada tujuh tahun terakhir. Ini diakibatkan kebijakan moneter yang ketat dari negara maju serta ketidakpastian global yang besar terkait perang dagang. Ditambah dengan CAD yang melebar menyebabkan rupiah rentan terdepresiasi.
Atas kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) merespon dengan menaikkan suku bunga acuan menjadi 6 persen di kondisi inflasi yang rendah. Namun perlu diketahui, inflasi rendah utamanya disebabkan oleh harga barang yang diatur pemerintah (administered price).
Tahun depan, Bank Dunia juga meramalkan ekonomi Indonesia akan tumbuh sama dengan tahun ini yakni 5,2 persen. Pertumbuhan ekonomi didodorong permintaan dalam negeri yang tinggi dan diperkirakan mampu mengimbangi hambatan dari eksternal.
Penulis: Nrd
