TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Bank Dunia: Laju Ekonomi RI Tahun Ini 5,2 Persen

Nurdian Akhmad
13 December 2018 | 17:41
rubrik: Ekonomi
Melambat, Bank Dunia Prediksi Ekonomi RI 2018 Tumbuh 5,2%

Foto: istimewa

Jakarta, TopBusiness – Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini sebesar 5,2 persen.  Sementara selama  lima kuartal terakhir (sejak kuartal III-2017), laporan Bank Dunia menyebut  ekonomi Indonesia bertumbuh yang  dipicu oleh menggeliatnya sektor pertambangan dan infrastruktur.

“Faktor pendorongnya antara lain pulihnya investasi di sektor swasta yang membentuk peningkatan modal tetap bruto,” ujar  Frederico Gil Sander, Ekonom Utama Bank Dunia untuk Indonesia, Kamis (13/12/2018).

Sedangkan konsumsi swasta sedikit menurun, namun diimbangi dengan lonjakan konsumsi pemerintah yang tetap menjaga pertumbuhan konsumsi secara total. Namun, pembangunan infrastruktur yang tinggi menyebabkan pertumbuhan nilai impor juga tinggi. Meskipun ekspor meningkat namun karena pertumbuhan impor lebih tinggi menyebabkan pertumbuhan ekonomi terhambat.

Di sisi produksi, pertumbuhan meningkat di sebagian besar sektor kecuali untuk sektor pertanian dan utilitas. Akibatnya pertumbuhan nilai tambah bruto sedikit meningkat menjadi  5,1 persen secara tahunan, dari kuartal II-2018 yang hanya 5 persen.

Selain itu, defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) juga terus melebar. Tercatat defisit transaksi berjalan mencapai US$ 8,85 miliar atau setara 3,37 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Hal ini disebabkan harga minyak mentah yang tinggi hingga Oktober 2018, dan pertumbuhan proyek infrastruktur yang terus meningkat plus nilai rupiah yang terdepresiasi. Sisi lain, investasi asing langsung hanya mencapai US$ 3,3 miliar atau nilainya lebih kecil timbang CAD.

“Sejak Januari hingga Oktober 2018 rupiah terdepresiasi sekitar 12 persen, sehingga yang menjadi perhatian adalah CAD,” ungkap

Menurutnya, arus masuk dana asing ke obligasi berada pada tingkat terendah pada tujuh tahun terakhir. Ini diakibatkan kebijakan moneter yang ketat dari negara maju serta ketidakpastian global yang besar terkait perang dagang. Ditambah dengan CAD yang melebar menyebabkan rupiah rentan terdepresiasi.

BACA JUGA:   Pertemuan IMF-Bank Dunia Tak Mampu Kerek Rupiah

Atas kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) merespon dengan menaikkan suku bunga acuan menjadi 6 persen di kondisi inflasi yang rendah. Namun perlu diketahui, inflasi rendah utamanya disebabkan oleh harga barang yang diatur pemerintah (administered price).

Tahun depan, Bank Dunia juga meramalkan ekonomi Indonesia akan tumbuh sama dengan tahun ini yakni 5,2 persen. Pertumbuhan ekonomi didodorong permintaan dalam negeri yang tinggi dan diperkirakan mampu mengimbangi hambatan dari eksternal.

Penulis: Nrd

Tags: Bank Dunia
Previous Post

IHSG Ditutup Melejit ke 6.177, Kurs Rp 14.480

Next Post

Saham Telkom Transaksi Rp 250 Miliar Pagi Ini

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR