TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Properti Masih Lesu, Penjualan DILD Ditargetkan Stagnan

Busthomi
23 January 2019 | 10:24
rubrik: Business Info
Pasar Melambat, Apartemen  Menengah Tetap Stabil

Ilustrasi Properti/Istimewa

Jakarta, TopBusiness – PT Intiland Development Tbk (DILD) mengaku prospek bisnis property di tahun 2019 ini masih stagnan. Untuk itu, perseroan hanya menargetkan pendapatan penjualan (marketing sales) sekitar Rp2,5 triliun.

Angka tersebut berarti masih stagnan atau relatif sama dengan pencapaian tahun 2018 lalu. Makanya perseroan tahun ini masih akan fokus pada pengembangan di proyek-proyek yang telah berjalan.

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland, Archied Noto Pradono menegaskan, potensi pengembangan proyek-proyek baru itu dirasa tetap ada, namun sangat mempertimbangkan arah dan kondisi pasar.

“Karena secara umum penjualan tahun ini masih cukup menantang. Makanya kami menargetkan perolehan marketing sales sekitar Rp2,5 triliun atau relatif sama dengan pencapaian tahun lalu,” ungkap dia di Jakarta, Rabu (23/1/2019).

Untuk pengembangan baru tahun ini, kata Archied, antara lain produk townhouse Pinang Residence, klaster baru di kawasan perumahan Serenia Hills, serta pengembangan apartemen baru “SQ Res” South Quarter di Jakarta.

Sementara untuk wilayah Surabaya, perseroan merencanakan untuk memulai pengembangan mixed-use and high rise Tierra dan kondominium Graha Golf tahap 3.

Namun begitu, dengan mempertimbangkan rencana perkembangan dan potret pasar properti ke depan, Archied masih optimistis Intiland mampu mempertahankan dan menjaga kinerja.

“Perseroan telah menyiapkan sejumlah strategi utama untuk menjaga stabilitas keuangan dan tingkat pertumbuhan usaha,” jelas Archied.

Untuk kinerja sepanjang 2018, dia menjelaskan, marketing sales DILD sebesar Rp2,28 triliun atau lebih rendah sekitar 22,1% dibandingkan perolehan 2017 sebesar Rp2,93 triliun.

Namun demikian, perseroan berhasil meningkatkan kinerja pendapatan berkelanjutan (recurring income) yang tercatat mencapai Rp595,7 miliar melonjak 12,8 % dari 2017 senilai Rp528,2 miliar.

Perolehan marketing sales ini, kata Archied, setara 67,5% dari target perseroan 2018 yang sebesar Rp3,38 triliun. Penurunan marketing sales ini terutama disebabkan kondisi pasar properti yang kurang baik serta turunnya minat beli konsumen.

BACA JUGA:   Apindo: Sektor Properti Bakal Menggeliat Pasca Pilpres

“Pertumbuhan pasar properti sepanjang 2018 belum seperti yang diharapkan para pelaku pasar. Minat beli konsumen dan investor turun signifikan dan cenderung mengambil sikap wait and see serta selektif dalam melakukan pembelian,” jelasnya.

Perseroan mencermati, pemerintah telah meluncurkan sejumlah stimulus untuk mendorong pertumbuhan pasar properti sepanjang tahun lalu. Namun pada kenyataannya, kebijakan-kebijakan tersebut tak langsung berpengaruh dan belum mampu mendorong minat beli konsumen.

“Gejala tersebut terjadi pada semua segmen properti, seperti produk hunian maupun komersial dan segmen properti lainnya,” kata dia.

Perseroan mencatat dari perolehan marketing sales 2018, penjualan yang berasal dari pengembangan proyek-proyek di Jakarta mencapai Rp1,39 triliun, atau 60,8% dari keseluruhan. Sisanya, proyek-proyek di Surabaya mencapai Rp893,7 miliar (39,1%).

Kontribusi marketing sales terbesar masih berasal dari segmen pengembangan mixed-use and high rise yang mencatatkan penjualan sebesar Rp1,21 triliun (53%). Perolehan ini menurun sekitar 37% dibandingkan 2017 yang mencapai Rp1,92 triliun.

Kendati pun pasar properti kurang kondusif, kata dia, perseroan justru berhasil meningkatkan penjualan dari segmen pengembangan kawasan perumahan. Pada segmen ini perseroan membukukan marketing sales Rp569,2 miliar, atau melonjak 17,8% dibandingkan 2017 senilai Rp483 miliar.

Perseroan mencatat berdasarkan tipe dan sumbernya, pendapatan dari pengembangan (development income) memberikan kontribusi sebesar Rp2,28 triliun. Sementara, kontribusi recurring income yang bersumber dari penyewaan ruang kantor, ritel, pengelolaan lapangan golf, klub olah raga, pergudangan, dan fasilitas, tercatat mencapai Rp595,7 miliar.

“Kontribusi recurring income ke depan akan terus meningkat seiring dengan selesainya pengembangan proyek-proyek baru, seperti perkantoran dan ritel. Proyek-proyek yang segera selesai dan mulai beroperasi tahun ini seperti Praxis dan Spazio Tower di Surabaya,” kata Archied.

BACA JUGA:   Telko Tak Energik, Northcliff Andalkan Properti

Penulis: Tomy

Tags: DILDproperti
Previous Post

Khawatir Perlambatan Ekonomi Global, IHSG Terkoreksi

Next Post

Michelin Akuisisi MASA Rp 6,2 Triliun

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR