Jakarta, TopBusiness – Perang dagang (trade war) antara Amerika Serikat dan China yang masih belum diketahui ujungnya akan sangat berdampak ke industri dalam negeri. Salah satunya diraskaan bagi para eksportir ke Negeri Tirai Bambu itu.
Para eksportir ke China terutama untuk sektor pertambangan batubara bakal menurunkan pasokan komoditas tersebut ke sana. Karena permintaan juga pasti menurun.
Kondisi itu menjadi perhatian lembaga keuangan perbankan yang turut mengucuri kredit ke eksportir tersebut. Karena hal itu jangan sampai menjadi potensi kredit macet (Non Performing Loan).
Menurut Kepala Ekonomi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), Ryan Kiryanto, saat ini banyak bank-bank yang tengah melakukan pengecekan terkait debiturnya yang memiliki usaha mengekspor barang-barang ke China.
“Salah satunya dilakukan BNI. Dengan kondisi perang dagang ini pihak BNI tengah mengecek debitur kita yang berkaitan dengan ekspor ke China. Seperti ekspor batubara itu,” ujar dia dalam diskusi Emiten Bicara Industri (EBI), di Jakarta, Selasa (29/1/2019).
Dengan begitu, kata dia, pihaknya akan melakukan restrukturisasi kredit terhadap debitur tersebut. Langkah ini disebutnya sebagai antisipasi sebelum NPL itu meninggi.
“Restrukturisasi itu tidak hanya untuk NPL yang masuk kategori 2 dan 3 baru direstrukturisasi. Tapi justru debitur sektor batubara seperti itu layak direstrukturisasi,” jelas Ryan.
Sektor pertambangan sendiri, kata dia, berdasar data Bank Indonesia (BI) salah satu dari dua sektor yang memiliki NPL tertinggi. Satu lagi sektor perdaganga.
“Sehingga bank akan lebih hati-hati. Makanya langkah restrukturisasi itu sangat penting,” uacap dia.
Lebih jauh dia menegaksan, melihat kinerja kredit perbankan sejatinya tak hanya dilihat dari posisi likuiditas atau loan to deposit ratio (LDR). Akan tetapi ada juga instrumen lain yakni Loan at Risk (LAR) yang menjadi perhatian.
“Dari LAR itu bisa dilihat, apakah NPL-nya masuk kategori 1 atau 5. Dan sudah pasti yang masuk LAR itu yang sedang direstrukturisasi,” terang dia.
Untuk itu, dalam rangka restrukturisasi itu pihak BNI akan lebih responsif terhadap debiturnya dengan menawarkan solusi. Misalnya dengan menawarkan jangka waktu kredit yang diperpanjang, uang angsuran diperkecil, atau suku bunga dikurangi.
“Karena bagi bank itu yang penting bagaimana selamatkan kredit agar bisa lancar. Jadi approach kita bukan per industri, tapi per individu. Kita bukan hindari (dua sektor itu, tapi pendekatan case by case,” pungkas dia.
Penulis: Tomy
