“Pada tahun ini, isu sentral industri perbankan ada pada isu likuiditas. Seharusnya, secara individu perbankan harus bisa menjaga LDR (loan to deposit ratio)-nya di kisaran 87-90 persen. Tapi faktanya saat ini sudah sampai 94 persen,” kata Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Ryan Kiryanto di Jakarta, Selasa (29/1/2019).
Menurut Ryan, kondisi itu karena adanya penyaluran pembiayaan infrastruktur yang secara agresif oleh bank BUKU 4 dan bank besar lainnya. Sehingga menyebabkan tergerusnya likuiditas industri perbankan.
“Di 2018 lalu, bank BUKU 4 dan bank papan atas lainnya lebih happy ke pembiayaan infrastruktur,” tegasnya.
Dia menambahkan, penyaluran pembiayaan infrastruktur tersebut oleh swasta dan BUMN itu telah memicu berkurangnya likuiditas di industri perbankan. “Sehingga kondisi ini yang menyebabkan likuiditas perbankan tergerus,” ungkap Ryan.
Lebih lanjut dia menegaskan, para pelaku pasar memandang bahwa Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) lebih konservatif memproyeksikan pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK). “Sekarang ini loan growth melampaui funding growth,” tegas dia.
Dengan demikian secara industri, jelas Ryan, tingkat LDR perbankan yang sudah berada di atas 94 persen itu membuat kondisi likuiditas di 2019 cukup mengkhawatirkan. “Padahal, market merasa nyaman jika LDR berada di kisaran 87-90 persen. Jadi, bank-bank harus menjaga LDR di kisaran itu,” imbuhnya.
Ryan menegaskan, jika LDR berada di kisaran 87-90 persen, maka pasar keuangan maupun pasar modal akan memandang bahwa industri perbankan masih memiliki ruang yang lebih luas untuk ekspansi menyalurkan kredit.
“Biasanya, bank yang LDR-nya di atas 95 persen, mereka siasati dengan sindikasi atau konsorsium,” ujar Ryan.
