
Jakarta, businessnews.id — PT Tiphone Mobile Indonesia, Tbk. (kode emiten pasar modal: TELE) menargetkan pendapatan sebesar Rp 15,6 triliun sepanjang tahun 2014. Dengan rincian, pendapatan dari penjualan voucher sebesar Rp 8,6 triliun, dan penjualan telepon selular sebesar Rp 7 triliun.
Direktur Utama Tiphone Mobile Indonesia, Tan Lie Pien, di Jakarta (24/6/2014), menjelaskan bahwa prospek penjualan telepon selular masih tinggi, terutama telepon pintar (smart phone).
“Dengan gencarnya media sosial, penggunaan telepon pintar yang saat ini masih 20 persen dari total pengguna telepon [akan naik terus].”
Mendukung target itu, pihaknya terus mengembangkan jaringan ritel untuk mendukung penjualan telepon selular branded melalui anak perusahaan, Telesindo Shop.
Pengembangan gerai itu tidak hanya menjual produk, tapi juga menyediakan pelatihan dan pengetahuan kepada calon pembeli.
”Sampai akhir 2014, kami menargetkan menambah 1.000 outlet penjualan ponsel,” terang dia.
Mendukung pengembangan itu, perseroan menganggarkan dana belanja sebesar Rp 139 miliar.
Juga, akan mengakuisisi sebuah perusahaan yang bisnisnya sejalan dengan Tiphone saat ini.
“Nilai dan namanya belum bisa kami sebutkan, namun soal waktu, di pada kuartal IV 2014,” dia berkata.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Tiphone Mobile Indonesia Samuel Kurniawan, mengatakan bahwa pihaknya menyetujui rencana aksi korporasi dengan melepas 10 persen saham melalui mekanisme non-HMETD (hak memesan efek terlebih dahulu).
“Rapat pemegang saham menyetujui pelepasan 10 persen saham melalui non-HMETD,” kata dia.
Direncanakan, PT Pins ndonesia yang anak usaha PT Telkom, akan mengambil 10 persen saham tersebut, pada kuartal III 2014.
Sebelumnya, Pins Indonesia telah ancang-ancang mengambil 10 persen sampai 30 persen saham Tiphone.
“Yang disetujui rapat umum pemegang saham luar biasa, adalah 10 persen non-HMETD. Lalu bila Pins berminat lagi, 10 persennya menggunakan saham pemilik,” terang dia.
Kisaran nilai pelepasan 10 persen sampai 30 persen saham Tiphone tersebut antara Rp 600 miliar sampai Rp 800 Miliar. Dengan harga per lembar saham Rp 817.
“Pelepasan saham tersebut guna mengumpulkan dana untuk pengembangan bisnis,” ucap Samuel. (Abdul Aziz)
Editor: Achmad Adhito