TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Sentimen Global dan Domestik Picu Rupiah di Zona Merah

Busthomi
12 February 2019 | 09:49
rubrik: Business Info
Sentimen Positif AS Bakal Picu Rupiah di Zona Merah

foto: istimewa

Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini (Selasa, 12/2/2019) diprediksi masih akan melanjutkan pelemahannya. Hal ini dikarenakan masih adanya sentiment kondisi pelemahan ekonomi global dan neraca transaksi berjalan yang masih defisit (current account defisit).

Mengutip Bloomberg pagi ini, rupiah ditransaksikan di sesi pembukaan pagi di angka 14.080 atau melemah 46 poin dari penutupan sebelumnya di posisi 14.034. Dalam perdagangan satu jam pertama pun, rupiah masih di teritori negatif di tangga 14.092.

Menurut analis pasar uang Monex Investindo Futures, Dini Nurhadi Yasyi pelemahan laju kurs rupiah ini karena ditopang oleh sentiment negatif dari domestik dan global. Dari perekonomian global yang masih melambat ternyata membuat para pelaku pasar lebih melirik ke USD sebagai investasi yang safe haven, akhirnya membuat rupiah melemah.

“Saat ini, perlambatan ekonomi global masih jadi perhatian pasar usai pekan lalu bank sentral Australia, Inggris, Eropa, serentak memangkas angka proyeksi pertumbuhan ekonomi mereka,” jelas dia di Jakarta, Selasa (12/2/2019).

Sementara sentiment dari domestik telah membuat rupiah kembali masih melemah. Salah satunya terkait defisit neraca transaksi berjalan (current account defisit).

“Current account kita pas dirilis (Bank Indonesia) hari Jumat lalu itu defisitnya melebihi forecast. Bahkan lebih tinggi dari defisit kuartal III-2018,” jelas dia.

Dengan defisit di triwulan IV-2018 yang tercatat USD 9,1 miliar atau 3,57 persen dari PDB, maka secara keseluruhan di tahun lalu itu defisit neraca transaksi berjalan tercatat sebesar 2,98% dari PDB atau meningkat dibandingkan kinerja 2017 yang sebesar 1,6% dari PDB.

Sehingga, dengan kondisi perekonomian yang seperti itu, dia memproyeksi, nilai tukar rupiah masih akan terkonsolidasi di sekitar 13.900 hingga Rp14.000 per USD.

BACA JUGA:   Kurs Rupiah Kembali Merosot, BI: Tak Akan Lama

Penulis: Tommy

Tags: dolar ASrupiah
Previous Post

Tol Paspro Siap Dioperasikan, Pangkas Waktu Tempuh Hingga 2 Jam

Next Post

3 Saham Terbang Tinggi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR