
Jakarta, businessnews.id — Direktur Keuangan Garuda Indonesia Handrito Hardjono menyatakan di Jakarta (25/6/2014), lindung nilai (hedging) yang dilakukan pihaknya dengan BNI sebesar Rp 500 miliar untuk tiga tahun, masih terbilang kecil.
Sebab, kebutuhan valuta asing Garuda tiap tahun setara dengan Rp 30 triliun. “Yang di-hedging masih kecil, kira-kira 20 persen. Dan sebagian besar masih belum di-hedging,” dia menjelaskan.
Namun untuk mengurangi kerugian akibat fluktuasi nilai tukar Rupiah, masih terdapat instrumen lainnya seperti dengan mengompensasi harga tiket penerbangan. “Kalau Rupiah melemah, kita bisa mengompensasikan dengan menaikkan harga tiket,” dia berkata.
Ia berharap, kerja sama dengan BNI itu dapat mengurangi kerugian akibat fluktuasi nilai tukar Rupiah. Di samping itu, sebelumnya Garuda telah melakukan lindung nilai terhadap transaksi bahan bakar sebesar 20 persen dari total kebutuhan.
Sementara itu, Direktur Treasury BNI Suwoko Singoastro, menyatakan bahwa harga patokan Rupiah yang disepakati dengan Garuda untuk perjanjian hedging itu, adalah nilai di Mei 2014. (Abdul Aziz)
Editor: R. Achmad Adhito Hatanto