Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini diproyeksikan kembali ke ranah negatif. Sempat menguat terbatas, kali ini kembali melemah karena dipicu sentiment neraca perdagangan yang defisit dan harga minyak dunia yang mulai naik.
Mengutip Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka di level Rp14.113 atau melemah tipis 6 poin dari penutupan kemarin di tangga Rp14.107. Sejak dibuka, tren rupiah juga terus melemah dank e Rp14.118 dalam satu jam pertama.
Faisyal, Analis Monex Investindo Futures menyebutkan, penguatan rupiah di perdagangan kemarin relative tak kuat karena terbilang terbatas. Dan kembali berpotensi melemah.
“Dan laju rupiah itu terhambat oleh dua faktor. Pertama defisit data perdagangan Indonesia (yang dirilis BPS) pada pekan lalu. Dan kedua, harga minyak global yang sedang naik,” terang Faisyal di Jakarta, Selasa (19/2/2019).
Meski begitu, dia sendiri masih memprediksi, laju rupiah berpeluang ditutup menguat. Di mata dia, masih ada sentimen positif kemarin masih berpengaruh. “Untuk perdagangan hari ini, rupiah diproyeksi bergerak di kisaran Rp14.025-Rp14.150 per USD,” tegas dia.
Sebelumnya, kondisi USD yang melemah menjadi pemicu penguatan rupiah. Bahkan, laju sebagian besar mata uang kawasan Asia menguat terhadap USD. Selain faktor hubungan dagang antara AS dan China, ada sentimen lain yang membuat penguatan USD terhenti.
USD sendiri tertekan pernyataan dovish pejabat The Fed yang menyatakan suku bunga tidak naik sama sekali karena merespons data penjualan ritel dan produksi industri AS yang negatif. Sementara dari Eropa, Perdana Menteri Inggris Theresa May bersiap kembali ke Brussels untuk pembicaraan lebih lanjut dengan para pemimpin Uni Eropa terkait Brexit.
Pada perdagangan kemarin, di pasar spot, rupiah tercatat menguat 0,33% ke Rp 14.107 per USD. Sementara di kurs tengah Bank Indonesia, rupiah menguat tipis 0,07% jadi Rp 14.106 per USD.
Penuilis: Tomy
