Jakarta, TopBusiness—Saat ini, pertumbuhan pasar perdagangan elektronik (e-commerce) di Indonesia memasuki tahap ketiga dari keseluruhan empat tahap. Di gelombang tersebut, yang terpenting bukanlah menjadi perusahaan unicorn.
“Yang penting, adalah mendapatkan sustainability,” kata Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (Idea/Indonesia E-Commerce Association), Ignatius Untung, di Jakarta (27/2/2019), dalam paparannya ke sejumlah media massa.
Untung ada menjelaskan bahwa, pada tahap ketiga tersebut, bisa dikatakan bahwa ide apapun bisa diolah menjadi sebuah perusahaan perdagangan elektronik. Dari sini, ada banyak perusahaan yang terampil menemukan model bisnis yang tepat.
Beriringan dengan itu, di fase tersebut terjadilah gelombang konsolidasi, akuisisi, dan merger.
“Bulan madu investasi juga sudah berlalu. Para pemilik dana sudah lebih selektif, dan paham bahwa sejatinya tidak semua perusahaan pantas didanai,” ujar dia.
Sebelumnya, pada tahap pertama, pasar perdagangan digital diwarnai dengan banyaknya kemunculannya perusahaannya rintisan (start up).
Untuk tahap kedua, adalah kondisi banyaknya pemain baru yang melahirkan kompetisi yang sangat ketat. “Perusahaan unicorn muncul di tahap ini. Dan di tahap ketiga adalah pentingnya sustainability,” dia menegaskan.
Adapun di fase keempat, ditandai dengan masa data driven. Di sini, yang menjadi kunci adalah kepemilikan kuat dalam data. Siapa pihak yang punya basis data sangat baik, itulah yang diuntungkan.
Hal itu pun sudah terlihat sekarang dalam ekspansi cepat penjualan tiket secara digital, yang dilakukan pemain yang punya basis data yang bagus. Penjualan tiket seperti itu meluas, juga dilakukan oleh pemain yang sebelumnya tidak bermain di bisnis tersebut tetapi punya basis data yang bagus.
Penulis: Adhito
