Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini diproyeksi bakal ke zona merah hal ini dikarena adanya sentiment bank sentral AS, The Federal Reserve.
Mengutip Bloomberg pagi ini, rupiah sejatinya dibuka menguat di level Rp13.985. Posisi itu rupiah alami apresiasi tipis 6 poin dari penutupan kemarin di posisi Rp13.991. Dalam satu jam pertama, mata uang NKRI itu kembali menukik ke tangga Rp14.013.
Rupiah sendiri sebetulnya sejak awal pekan berada di zona hijau. Kemarin, data dari Bloomberg, kurs rupiah di pasar spot ditutup menguat 26 poin atau 0,19% di level Rp13.992 per USD, dari level penutupan perdagangan sebelumnya. Sedang ada perdagangan Senin (25/2), rupiah mengakhiri pergerakannya dengan apresiasi 40 poin atau 0,28% di level Rp14.018 per USD.
Menurut analis pasar uang dari Binaartha Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta Utama, laju rupiah terhadap USD kali ini diramal bakal cenderung ke teritori negatif.
“Jika dilihat dari perspektif fundamental, adanya statement dari Gubernur The Fed Jerome Powell di hadapan Komite Perbankan Senat membuat sentiment negatif rupiah,” kata dia di Jakarta, Rabu (27/2/2019).
Pernyataan tersebut, kata dia, mengenai Semiannual Monetary Policy Report di Washington DC yang diperkirakan akan memberikan katalis positif bagi USD. Selain itu, sentimen dari ketidakpastian proses Brexit juga mendukung hal tersebut.
Sementara itu dari kacamata teknikal, tandasnya, terlihat pola white opening bozu candle pada USD-IDR Daily chart yang mengindikasikan adanya potensi penguatan bagi dolar AS terhadap rupiah.
“Dengan kondisi tersebut, pergerakan mata uang Garuda terhadap USD akan bergerak di rentang Rp13.950 hingga Rp14.025,” pungkas dia.
Penulis: Tomy
