
Diam-diam, Pulau Dewata punya sistem pertanian nan apik. Keberhasilan sistem itu mulai terasakan di tahun 2009. Itu adalah Sistem Pertanian Terintegrasi (Simantri). Simantri penting mengingat ada 6,17% warga miskin Bali. Dan mereka berdomisili di pedesaan sebagai petani.
Nah, masalah mendasar nan mendera petani yakni kurangnya akses ke sumber permodalan, teknologi, dan pasar. Pembangunan ekonomi berbasis pertanian dan pedesaan, secara langsung atau tidak langsung, berdampak ke pengurangan penduduk miskin.
Konsep pembangunan agribisnis pedesaan selama ini masih bersifat parsial, dan tak sinambung.
Kegiatan integrasi yang dilaksanakan juga berorientasi pada usaha pertanian tanpa limbah (zero waste) dan menghasilkan 4F (food, feed, fertilizer, dan fuel).
Wisnu Ardhana, kepala Dinas Tanaman Pangan Bali, mengatakan, “Satu Simantri mendapatkan dana bergulir sebesar Rp 225 juta, satu Simantri terdiri dari enam kepala keluarga.”
Ia menambahkan, kini sudah ada berkembang sebanyak 504 desa kelompok Simantri.
Propinsi Bali telah memberikan anggaran subsidi pupuk organik sebesar Rp 10 miliar di tahun 2014 sampai November, atau sebesar 12.500 ton.
Satu kelompok Simantri mendapatkan bantuan 20 ekor sapi, kandang koloni, rumah pupuk, dan instalasi biourin.
Bali akan menjadi percontohan bagi daerah lain dalam pengembangan Simantri, yang telah dimulai sejak 2002. Hingga saat ini, Simantri sungguh sangat baik perkembangannya.
Dan konsep Simantri ini pun lebih bertitik berat ke konsep go green alias ekonomi hijau, dari alam kembali ke alam.
Konsep ini diterapkan Propinsi Bali agar pertanian memberikan daya dukung alam dengan pola keseimbangan. Program ini akan terus berjalan sampai tahun 2018.
“Kami juga merencanakan pembangunan pembangkit listrik dengan menggunakan kotoran hewan atau biogas, mungkin satu sampai dua tahun mendatang, sudah dapat terealisir juga pembangkit listrik biomass,” tegas Wisnu.
KUAT pun Ada
Satu koperasi yang berdiri terkait Simantri adalah Koperasi Usaha Agribisnis Terpadu (KUAT). Tahun 2002, KUAT didirikan dengan modal awal dari Pemerintah Propinsi Bali sebesar Rp 842.400.000.
KUAT memberi pelayanan kepada anggota berupa penyediaan bibit, pupuk, dan pestisida. Di situ, sistemnya adalah, ‘ambil dahulu, setelah panen baru bayar’. Istilah populer untuk itu adalah yanen.
Koperasi juga memberikan pelayanan kepada seluruh anggota untuk membeli alat-alat pertanian dan mesin-mesin pertanian dengan bunga 1 persen per bulan.
KUAT memberi pelayanan kepada anggotanya dalam pendanaan pemilikan sapi dan kambing untuk penggemukan. Anggota bisa memesan sapi atau kambing dengan bobot dan umur tertentu kepada KUAT, nanti koperasilah yang mencarikan kriteria yang dikehendaki anggota.
Harga ternak tersebut sesuai dengan harga pasar, koperasi hanya memberikan bunga pinjaman 1 persen per bulan disertai biaya administrasi 2 persen per bulan.
Saat ini, KUAT telah memberikan anggaran dana bagi setiap anggota agar dapat membeli sapi atau kambing. Koperasi itu siap memberikan kredit kepada anggota dengan pagu plafon Rp 2 juta per orang.
Selanjutnya, tidak sekadar menggerojokkan pinjaman, KUAT sudah memproduksi benih padi dengan varietas unggul yang sudah bersertifikat. Produksi benih itu sebanyak 300 ton per tahun dengan berbagai macam kelas dan varietas.
Setiap bulan, koperasi itu mengirimkan benih padi ke Indonesia Timur yaitu: Kupang, Way Gapu, Timor Leste, Sumbawa, sebanyak 20 ton per bulan. Sedangkan kebutuhan benih padi se-Propinsi Bali sebanyak 3.000 ton per tahun.
Diketuai I Wayan Atmajaya, koperasi itu memiliki tujuh kelompok pertanian dengan sebanyak 544 keluarga yang tersebar di tiga desa. Awalnya melayani kelompok petani dengan luas lahan 176 hektar pada tahun 2002, tahun ini koperasi itu bisa melayani 320 hektar.
Di tahun 2002 bermodal Rp 842 juta, kini KUAT bermodal Rp 5,2 miliar. Kini omset koperasi ini Rp 300 juta per bulan.
Dalam hal sebagai wadah simpan-pinjam, kini ada deposito anggota senilai Rp 300 juta.
KUAT telah memberikan bonus atau sisa hasil usaha 15 persen, dan keuntungan kepada kelompok tani 20 persen; untuk penguatan modal usaha, ada 40 persen.
Apik Karena Didukung Semuanya
Kembali ke Simantri, Anak Agung Kamandalu, kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali, mengatakan bahwa berhasilnya Simantri tidak terlepas dari keinginan seluruh pemangku kepentingan, baik itu satuan teknis maupun pemerintah daerah. Pembinaan ke petani berlangsung ketat dalam Simantri.
Saat ini, tidak ada uang yang diberikan kepada petani. Lantas? Begini, petani diberikan bantuan berupa barang seperti sapi, kandang, koloni, kandang urin, dan lahan composer kotoran sapi yang diproses menjadi pupuk kandang. Di situ, ada juga proses pupuk cair dari hasil air seni sapi.
“Setiap Simantri mendapatkan bantuan bergulir senilai Rp 225 juta,” terang Anak Agung Kamandalu kepada Businessnews Indonesia, ketika mengunjungi kelompok penerima Simantri yang berhasil.
Lanjut dia, program yang berhasil di Bali ini dapat menjadi contoh bagi propinsi-propinsi lain se-Nusantara ini.
“Kami berharap, Simantri dapat ditularkan ke daerah lain. Kami dari Bali sebagai pencetus program ini siap memberikan pembinaan bagi daerah lain dalam aplikasi Simantri. Semoga program ini memberikan manfaat dalam meningkatkan kehidupan keluarga petani secara hakiki,” dia mengatakan. (Albarsah)
Editor: Achmad Adhito